Berdasarkan capitalisasi asset BEI termaksud
unggulan di regional asia tapi ada hal lain yang tidak boleh luput dari
pengamatan kita. Tidak ada yang meragukan bahwa Indonesia sedang tumbuh itulah
yang menyebabkan para investor domestic maupun asing berani mengikutsertakan
modal mereka dalam jumlah besar.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pada
penutupan penjualan hari senin tanggal 17 maret 2014 lalu kapitalisasi pasar
modal mencapai Rp. 4.800 triliun dan itu berarti mendekati penjualan pada bulan
mei 2013 dengan capitalisasi modal sebesar Rp. 5.000 triliun, jika saya soroti
pada jumlah emiten BEI yang berjumlah 447 berarti akan di dapati index rata-rata
akumulasi modal 10,738 triliun/emiten, sekarang saya bandingkan dengan Malaysia
yang memiliki 889 emiten berarti akan di dapati index rata-rata akumulasi modal
5,399.
Nah.. dari analisis diatas maka sangat
realistis jika saya mengatakan fundamental perekonomian kita masih lemah bahkan
bias dikatakan bukan lagi ekonomi kerakyatan pancasila tapi terkesan capitalis
dan neoliberalis karena tidak ada pemerataan dalam perekonomian kita, mengapa
demikian? Sebagai salah satu negara terluas (ke-7 di dunia,
ke-2 di asia-pasifik, ke-1 di asean)
dengan total luas negara 5.193.250 km² (mencakup daratan dan lautan)
dengan Luas daratan mencapai 1.919.440 km² yang terdiri dari
34 propinsi jika tolak ukur pembangunan kita adalah capitalisasi modal di asean
dan Malaysia atau singapore kita berada jauh di bawah mereka.
Itu
belum lagi di tambah dengan kepemilikian asing terhadap saham dan emiten
unggulan dengan persentase 63% (dari total capitalisasi modal BEI 2013), jadi
wajar jika Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat kepemilikan saham investor
asing senilai Rp 1.586,255 dan investor domestik senilai Rp 917,722 triliun,
ketergantungan kita terhadap capitalisasi modal asing sudah melampaui batas, Ekonomi
kita bias kocar-kacir jika asing melepaskan modal mereka dari kita secara bersamaan
ini lebih dari sekedar lelucon para ekonomi.
Masih
banyak yang perlu kita benahi dari berbagai pandangan baik itu makro maupun
mikro ekonomi, PR bagi pemerintah dan swasta sebelum diresmikanya masyrakat
ekonomi asean 2015 (MEA). Jika tidak ingin neraca perekonomian kita goyah,
rupiah kita melemah, inflasi kita kian mengganas, stagnasi dan resesi akan
menjadi sangat nyata. Jangan sampai regulasi yang dibuat dalam bidang ekonomi
di tunggangi kepentingan perorangan, politik 2014 dan golongan karena analisis
SWOT dan ratio Antara risiko dan keuntungan itu tidak sepadan, untuk apa kita
membangga-banggakan pencapaian ekonomi kita sekarang bahkan pada era REPELITA
1-2 (1969-1979).
ekonomi kita juga pernah tumbuh pada kisaran >6-7% lebih baik kita
mempersiapkan diri dalam berkompetisi di kancah global yang kedepanya
diprediksi bakal lebih sengit untuk itu dibutuhkan fundamental kuat yang menjanjikan
pertumbuhan untuk dapat bertahan dalam persaingan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar