Minggu, 23 Maret 2014

AKUMULASI MODAL BEI, MEMBANGGAKAN?????

Berdasarkan capitalisasi asset BEI termaksud unggulan di regional asia tapi ada hal lain yang tidak boleh luput dari pengamatan kita. Tidak ada yang meragukan bahwa Indonesia sedang tumbuh itulah yang menyebabkan para investor domestic maupun asing berani mengikutsertakan modal mereka dalam jumlah besar.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pada penutupan penjualan hari senin tanggal 17 maret 2014 lalu kapitalisasi pasar modal mencapai Rp. 4.800 triliun dan itu berarti mendekati penjualan pada bulan mei 2013 dengan capitalisasi modal sebesar Rp. 5.000 triliun, jika saya soroti pada jumlah emiten BEI yang berjumlah 447 berarti akan di dapati index rata-rata akumulasi modal 10,738 triliun/emiten, sekarang saya bandingkan dengan Malaysia yang memiliki 889 emiten berarti akan di dapati index rata-rata akumulasi modal 5,399.
Nah.. dari analisis diatas maka sangat realistis jika saya mengatakan fundamental perekonomian kita masih lemah bahkan bias dikatakan bukan lagi ekonomi kerakyatan pancasila tapi terkesan capitalis dan neoliberalis karena tidak ada pemerataan dalam perekonomian kita, mengapa demikian? Sebagai salah satu negara terluas (ke-7 di dunia, ke-2 di asia-pasifik, ke-1  di asean) dengan total luas negara 5.193.250 km² (mencakup daratan dan lautan) dengan Luas daratan mencapai 1.919.440 km² yang terdiri dari 34 propinsi jika tolak ukur pembangunan kita adalah capitalisasi modal di asean dan Malaysia atau singapore kita berada jauh di bawah mereka.
Itu belum lagi di tambah dengan kepemilikian asing terhadap saham dan emiten unggulan dengan persentase 63% (dari total capitalisasi modal BEI 2013), jadi wajar jika Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat kepemilikan saham investor asing senilai Rp 1.586,255 dan investor domestik senilai Rp 917,722 triliun, ketergantungan kita terhadap capitalisasi modal asing sudah melampaui batas, Ekonomi kita bias kocar-kacir jika asing melepaskan modal mereka dari kita secara bersamaan ini lebih dari sekedar lelucon para ekonomi.

Masih banyak yang perlu kita benahi dari berbagai pandangan baik itu makro maupun mikro ekonomi, PR bagi pemerintah dan swasta sebelum diresmikanya masyrakat ekonomi asean 2015 (MEA). Jika tidak ingin neraca perekonomian kita goyah, rupiah kita melemah, inflasi kita kian mengganas, stagnasi dan resesi akan menjadi sangat nyata. Jangan sampai regulasi yang dibuat dalam bidang ekonomi di tunggangi kepentingan perorangan, politik 2014 dan golongan karena analisis SWOT dan ratio Antara risiko dan keuntungan itu tidak sepadan, untuk apa kita membangga-banggakan pencapaian ekonomi kita sekarang bahkan pada era REPELITA 1-2 (1969-1979). ekonomi kita juga pernah tumbuh pada kisaran >6-7% lebih baik kita mempersiapkan diri dalam berkompetisi di kancah global yang kedepanya diprediksi bakal lebih sengit untuk itu dibutuhkan fundamental kuat yang menjanjikan pertumbuhan untuk dapat bertahan dalam persaingan.

Minggu, 02 Maret 2014

AKUMULASI MODAL ADALAH ALTERNATIF DALAM INDUSTRI SEPAK BOLA

Siapa yang lebih kaya, pengusaha Eropa atau pengusaha Asia? Jika alat pengukurannya kepemilikan klub, maka bisa jadi pengusaha Asialah jawabannya. Kontes kekayaan ini tercermin dari dua pemilik klub terkaya di Premier League, Roman Abrahamovich dan Sheikh Mansour. Sang pengusaha asal Rusia memang berulang kali mengucurkan uang untuk skuat Chelsea, namun Sheik Mansour mampu merenovasi pusat latihan, memberikan fasilitas baru untuk akademi, dan merevitalisasi kawasan kumuh di sekitar Stadion Etihad. Tentu ia juga menghadiahi City dengan pemain-pemain bintang seperti Silva, Aguero, Fernandinho, Kompany, Jesus Navas dan banyak lainnya.
Tak heran jika salah satu jurnalis Inggris, David Conn, menggunakan sebutan "Richer Than God" untuk bukunya tentang pemilik City itu. Tapi, jika memang para pemilik Asia yang tangannya berlumur minyak itu sangat kaya, lalu untuk apa mereka memasuki dunia sepakbola? Ada apa di balik pundi-pundi uang yang tak seberapa jika dibandingkan dengan kekayaannya itu?
Dimulai oleh Inggris, Diubah oleh Inggris Awalnya, sepakbola adalah sebuah permainan. Bermula di sekolah-sekolah di Inggris dan kemudian menyebar lewat kolonialisasi. Menurut orang Ingggris, permainan sepakbola juga biasanya dimainkan oleh mereka yang menggantungkan hidup di pelabuhan-pelabuhan Inggris. Mereka yang memainkan sepakbola adalah orang-orang kelas bawah.
Inggris-lah yang mula-mula mengenalkan sepakbola. Namun Inggris pula yang mencoba membredel konsep usang tentang bagaimana mengelola sepakbola. Mengubahnya menjadi permainan yang berorientasi pada pasar yang ramah sponsor. Tentu saja ini berarti menggandeng media yang mampu menyampaikan segala informasi, tak terbatas jarak, ruang, dan waktu. Dan berkat media lah penetrasi bisnis sepakbola menjadi lebih dalam. Setiap pekannya saja Liga Inggris bisa disiarkan hingga ke lebih 150 negara. Peristiwa mana di dunia yang mendapatkan eksposure setinggi ini dari waktu ke waktu? Sangat menggiurkan. Senada dengan apa yang dilakukan Inggris, negara-negara adidaya sepakbola Eropa pun mengikutinya.
Merespons Krisis Ketika Eropa dilanda krisis besar, hal senada juga dirasakan banyak klub sepakbola. Para pemilik tak mampu mempertahankan keseimbangan neraca keuangan dan lalu menaruh hutang di mana-mana. Agar terus bertahan, banyak klub pun menaruh sahamnya di meja lelang. Mencari pemilik yang sarat akan uang. Tak perlu waktu lama bagi klub-klub top Eropa untuk menerima pengasuh baru. Fenomena pergantian pemilik klub itu bak menjual kacang rebus di tengah tontonan layar tancap. Barang sebentar langsung ludes. Habis terbeli. Coba lihat saja Manchester City. Lepas dari tangan Tan, klub ini langsung dipinang oleh pengusaha Timur Tengah.
Qatar mungkin bukan yang pertama, namun Qatar bisa dibilang yang terdepan dalam urusan ini. Lihat saja bagaimana upaya Qatar dalam urusan sepakbola. Qatar sedang membangun citra bahwasanya negara petrodollar tersebut juga ramah akan urusan olahraga. Hal yang sebelumnya jarang dilakukan.
Keuntungan “kecil” dari sepakbola jika dibandingkan bisnis jual beli minyak pun tak jadi soal untuk pengusaha Qatar. Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan dengan Man. City-nya, Nasser Al-Khelaifi dengan PSG-nya, Sheikh Butti bin Suhail Al Maktoum dengan Getafe-nya, mereka mengguyurkan uang yang tak sedikit untuk mengakuisisi klub-klub tersebut.
Yang terlihat jelas adalah Man. City dan PSG. Kedua klub tersebut seperti buah alpukat yang diperam ditumpukan beras. Dipaksa besar, dipaksa berprestasi, dengan gelontoran uang. Kesemuanya dilakukan secara instan.
Tak hanya Timur Tengah yang menanamkan modalnya. Mewakili Asia Tenggara ada Erick Tohir dan Vincent Tan di Inter Milan dan Cardiff City. Dari Hong Kong ada Carson Yeung owner Brimingham City. Pun dengan India yang telah muncul sebagai kekuatan baru dari Asia Selatan dengan menempatkan Shahid Khan sebagai pemilik Fulham, dan Ahsan Ali Syed sebagai pemilik Racing Santander.
Itulah cermin sepakbola Eropa masa kini. Khususnya sepakbola liga-liga termasyur Eropa. Sejarah tampaknya bisa dijadikan nomor dua. Uang jadi hal yang utama. Karena uang punya korelasi nyata dengan prestasi. Ketika sebuah klub bermain baik di lapangan, maka harga saham klub itu akan naik di bursa saham. Itulah salah satu faktor yang mendorong para pengusaha kaya raya tersebut berlomba-lomba merombak isi timnya. Agar sahamnya laku dipasaran dan menambah pemasukan mereka, selain mendapatkan pundi dari hak siar dan juga sponsor. Ya, aliran uang dari sepakbola memang tak ada habisnya. Namun apakah hanya karena uang saja para bussinesman Asia ini menggeluti sepakbola? Dalam buku Soccernomics karya Simon Kuper dan Stefan Szymanski, disebutkan bahwa bisnis sepakbola adalah bisnis yang tidak menguntungkan.
Semakin besar keuntungan yang didapatkan, maka semakin besar pula beban operasional klub yang mesti ditanggung. Belum lagi soal gaji pemain yang kian meroket tiap tahunnya.
Jika memang tak menguntungkan, kenapa terlalu banyak orang-orang Asia yang ingin tampil di sepakbola Eropa? Eropa sedang krisis? Ya. Namun lebih dari itu.
Motif di Balik Kepemilikan Klub Sepakbola menjadi bisnis yang menggiurkan. Ada perputaran uang dalam jumlah besar dalam sepakbola. Mulai dari hak siar, tiket, sponsor, jual-beli pemain, dan lain sebagainya. Sampai-sampai ada anekdot di Italia: seseorang baru bisa disebut benar-benar kaya tatkala ia memiliki klub bola.
Dari anekdot tersebut tergambar bahwa memiliki sebuah klub adalah sebuah gengsi tersendiri. Memiliki sebuah klub, maka pencitraan akan naik dengan sendirinya. Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh banyak borjuis Asia. Atas dasar ingin membangun citra, para borjuis Asia lalu berduyun-duyun masuk ke ranah sepakbola. Ranah yang sebelumnya tak pernah mereka geluti.
Ketiadaan pengalaman pada bidang ini tak jadi soal. Karena pengalaman bukan syarat utama untuk bergelut pada sepakbola. Lihat saja Vincent Tan yang mengakui bahwa ia baru mempelajari aturan-aturan sepakbola pada 2010. Atau, meski berasal dari Amerika, lihat bagaimana John Henry yang mengaku belum tahu apa Liverpool itu beberapa waktu sebelum ia melakukan pembelian.
Memiliki uang adalah syarat yang paling utama untuk mengelola sebuah klub. Dan syarat uang itu jelas ada pada pengusaha-pengusaha Asia. Terkhusus negeri kaya minyak macam Timur Tengah.
Walaupun banyak dari pengusaha tersebut belum mencapai break event point atas modal mereka, tapi ada yang lebih penting dari itu. Gengsi? Sudah pasti. Hobi? Belum tentu hobi. Karena selalu ada motif ekonomi disetiap langkah-langkah yang diambil oleh seorang pengusaha.
Tapi ada yang lebih hakiki daripada sekedar gengsi. Mereka sedang melaksanakan diplomasi publik. Ya, dewasa ini diplomasi tak melulu dilakukan oleh negara. Ada juga yang dilakukan oleh aktor non negara. Atau yang lebih kita kenal dengan second track diplomacy. Dewasa ini, diplomasi jenis ini telah dilakukan secara fasih oleh para pengusaha-pengusaha tersebut.
Langkah ini adalah langkah dalam membangun citra dalam pergumulan internasioal. Dan citra-lah yang dapat mempengaruhi opini suatu negara terhadap negara lain. Seperti yang dikutip dari Jay Wang, seorang profesor di USC Annenberg School for Communication dan Jurnalism, diplomasi publik dimaknai sebagai proses komunikasi pemerintah atau non pemerintah terhadap publik mancanegara yang bertujuan untuk memberikan pemahaman atas negara, sikap, institusi, budaya, kepentingan nasional, dan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh negaranya. Memberikan gambaran negeri mana yang lebih mashur, titi tentrem kerta raharja. Tentu masih banyak motif-motif lain yang membuat seorang pengusaha Asia membeli klub Eropa. Misalnya saja, Thaksin yang menggunakan Manchester City untuk "memutar" uang hasil korupsinya. Tapi, motif-motif lain itu tidak pernah murni tentang sepakbola. Utamanya justru melakukan instrumen-instrumen yang menyangkut soft power. Tujuannya jelas, ingin menambah posisi tawar dalam pergaulan internasional. Untuk menaikkan nation-branding suatu negara. Demi sebuah pengukuhan jati diri. Demi terus menjaga eksistensi. Lihat saja apa yang dilakukan Sheikh Mansour. Setelah mendandani Manchester Biru berjuta-juta dolar, ia juga berencana membangun sebuah komplek akademi yang akan dinamai Etihad Campus. Luasnya diperkirakan 32,3 hektar. Seakan sang miliarder ingin memberikan gambaran jelas, orang Asia lebih baik dalam mengelola sebuah klub.
Dari anekdot tersebut tergambar bahwa memiliki sebuah klub adalah sebuah gengsi tersendiri. Memiliki sebuah klub, maka pencitraan akan naik dengan sendirinya. Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh banyak borjuis Asia. Atas dasar ingin membangun citra, para borjuis Asia lalu berduyun-duyun masuk ke ranah sepakbola. Ranah yang sebelumnya tak pernah mereka geluti.
Ketiadaan pengalaman pada bidang ini tak jadi soal. Karena pengalaman bukan syarat utama untuk bergelut pada sepakbola. Lihat saja Vincent Tan yang mengakui bahwa ia baru mempelajari aturan-aturan sepakbola pada 2010. Atau, meski berasal dari Amerika, lihat bagaimana John Henry yang mengaku belum tahu apa Liverpool itu beberapa waktu sebelum ia melakukan pembelian.
Memiliki uang adalah syarat yang paling utama untuk mengelola sebuah klub. Dan syarat uang itu jelas ada pada pengusaha-pengusaha Asia. Terkhusus negeri kaya minyak macam Timur Tengah.
Walaupun banyak dari pengusaha tersebut belum mencapai break event point atas modal mereka, tapi ada yang lebih penting dari itu. Gengsi? Sudah pasti. Hobi? Belum tentu hobi. Karena selalu ada motif ekonomi disetiap langkah-langkah yang diambil oleh seorang pengusaha.
Tapi ada yang lebih hakiki daripada sekedar gengsi. Mereka sedang melaksanakan diplomasi publik. Ya, dewasa ini diplomasi tak melulu dilakukan oleh negara. Ada juga yang dilakukan oleh aktor non negara. Atau yang lebih kita kenal dengan second track diplomacy. Dewasa ini, diplomasi jenis ini telah dilakukan secara fasih oleh para pengusaha-pengusaha tersebut.
Langkah ini adalah langkah dalam membangun citra dalam pergumulan internasioal. Dan citra-lah yang dapat mempengaruhi opini suatu negara terhadap negara lain. Seperti yang dikutip dari Jay Wang, seorang profesor di USC Annenberg School for Communication dan Jurnalism, diplomasi publik dimaknai sebagai proses komunikasi pemerintah atau non pemerintah terhadap publik mancanegara yang bertujuan untuk memberikan pemahaman atas negara, sikap, institusi, budaya, kepentingan nasional, dan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh negaranya. Memberikan gambaran negeri mana yang lebih mashur, titi tentrem kerta raharja.
Tentu masih banyak motif-motif lain yang membuat seorang pengusaha Asia membeli klub Eropa. Misalnya saja, Thaksin yang menggunakan Manchester City untuk "memutar" uang hasil korupsinya. Tapi, motif-motif lain itu tidak pernah murni tentang sepakbola. Utamanya justru melakukan instrumen-instrumen yang menyangkut soft power. Tujuannya jelas, ingin menambah posisi tawar dalam pergaulan internasional. Untuk menaikkan nation-branding suatu negara. Demi sebuah pengukuhan jati diri. Demi terus menjaga eksistensi. Lihat saja apa yang dilakukan Sheikh Mansour. Setelah mendandani Manchester Biru berjuta-juta dolar, ia juga berencana membangun sebuah komplek akademi yang akan dinamai Etihad Campus. Luasnya diperkirakan 32,3 hektar. Seakan sang miliarder ingin memberikan gambaran jelas, orang Asia lebih baik dalam mengelola sebuah klub.
Tapi pernahkah kita memikirkan bagaimana membangun kompetisi nasional dan pengelolaan club kearah industri? "semoga masih banyak waktu untuk belajar dan memikirkanya" karena ekonomi itu jangkauanya luas dengan perkembang yang sangat cepat apalagi investor mulai kehabisan tempat untuk berinvestasi di sektor Migas (sekiranya perlu kita antisipasi) karena teknologi dan hoby sebagai suatu kebutuhan dan keinginan yang sangat mudah diekploitasi jika ingin ekonomi kita tetap tumbuh.
Berdasarkan ulasan diatas saya sepakat mengatakan bahwa kebahagiaan itu tidak dapat dibeli tapi pembelian bisa menciptakan kebahagian karena bagaimanapun kepemilikan dan besaran modal adalah gambaran dari sebuah kesejahteraan, iya... akumulasi modal harus dapat dikalkulasikan agar tepat sasaran dan jangan lupa indikator pencapain itu jelas bukan hanya prestasi (lebih rumit lagi teorinya). Nah.. untuk mencapai hal itu perlu management keuangan, management strategi dan management teknik yang terkoordinasi dengan baik..
sumber; http://sport.detik.com

Jumat, 24 Mei 2013

POSISI ANGGARAN DAN HUTANG NEGARA INDONESIA 2013

KEBIJAKAN HUTANG LUAR NEGERI INDONESIA
Sebelum kita membahas hutang negara perlu diketahui pula mengenai Anggaran pemerintah (APBN) yang didefinisikan sebagai suatu daftar atau peryataan yang terperinci tentang penerimaan dan pengeluaran Negara yang diharapkan dalam  jangka waktu tertentu sebuah anggaran dapat dijadikan tolak ukur kinerja dari pelaksanaan kebijakan anggaran pemerintah, apabila terjadi defisit dalam anggaran maka dapat diketahui strategi apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah yang tertuang dalam format RAPBN/APBNP.
Pengertian hutang luar negeri itu muncul ketika anggaran pendapatan sebuah negara tidak cukup untuk membiayai angaran belanja negara atau sering di sebut “defisit anggaran”. Begitupun yang berlaku di indonesia pada saat ini dan setelah tumbangnya pemerintahan orde lama, Hal ini juga sering dilakukan pada pembiayaan sektor publik yang dapat berupa berbagai pinjaman luar negeri baik itu pinjaman lunak maupun pinjaman berjangka melaui berbagai lembaga keuangan internasional maupun pinjaman langsung (G to G).
1.1.Sejarah Hutang Luar Negeri Dan Indonesia.
Hutang luar negeri bukanlah istilah baru bahkan sudah di kenal sebelum PERANG DUNIA PERTAMA, secara umum merupakan opsi praktis penyelesaian kompleksitas masalah negara (sosial, ekonomi, politik) secara ekonomi dan sekaligus penyebab krisis ekonomi suatu negara, artinya di satu sisi hutang tidak dapat di hindari dalam pembangunan namun disisi lain hutang merupakan masalah yang paling dominan dalam menyeret negara kedalam jurang krisis ekonomi moneter dan menjatuhkan negara tersebut kedalam jurang krisis ekonomi fiskal, Hutang luar negeri yang dapat dilakuakn dalam dua bentuk institusi to geoverment dan geoverment to geoverment. Dengan metode/modus pendekatan fiskal dari lembaga maupun negara, “mengiring dengan dengan fiskal menjatuhkan dengan moneter dan menghempaskan dengan fiskal” adalah metode kolonialisme modern, karena apa “negara kreditur itu takut apabila dia kehilangan nasabah mereka dan ketergantungan ekonomi suatu negara terhadap mereka adalah keinginan rahasia mereka”.
Dan Munculnya istilah krisis utang luar negeri setelah Perang Dunia Kedua Pasca Perang Dunia Kedua, para pemerintah di negara-negara utara dan barat (rusia/uni soviet, amirika serikat dan negara-negara uni eropa), lewat bank-bank swasta serta lembaga keuangan internasional seperti BANK DUNIA dan IMF memberikan pinjaman utang kepada negara-negara dunia ketiga (Amerika Selatan, Afrika dan Asia) untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur maha besar seperti jalan tol, bendungan, gedung-gedung mewah, pelabuhan, dan lainnya. Mayoritas negara-negara dunia ketiga pada waktu itu juga berambisi untuk mentranformasi status masyarakat mereka dari masyarakat agraris ke masyarakat industrialis, menciptakan lapangan kerja bagi rakyat, membangun infrastruktur seperti jalan raya, bandara, pelabuhan, bendungan, menyediakan pelayanan kesehatan, pendidikan dan air bersih, jaringan listrik serta mimpi yang indah lainnya. Untuk merealisasi mimpi-mimpin tersebut, negara-negara yang baru merdeka pada saat itu berpaling kepada Bank-Bank Swasta dan negara-negara barat untuk mendapatkan pinjaman luar negeri, dengan harapan bahwa hasil penjualan sumber daya alam mereka nantinya, akan digunakan untuk membayar kembali utang tersebut, “jadi istilah krisis hutang luar negeri ini muncul karena tidak banyak negara yang mampu memberdayakan hutang dengan tepat daya dikarenakan berbagai faktor ekternal seperti intimidasi pihak asing maupun korupnya internal”.
Indonesia merupakan salah satu negara yang pernah merasakan dampak krisis akibat pengelembungan hutang negara pada dikarenakan terlalu bergantung pada blok timur dari berbagai pinjaman uni soviet, manjanya negara dengan pinjaman-pinjaman luar negeri, dan manjanya pihak swasta dengan modal asing menyebabkan indonesia harus merasakan derita karena hutang luar negeri.
Di perparah lagi, kala itu indonesia yang sedang dalam resesi ekonomi harus di hadapi oleh berbagai tekanan dan intimidasi serta iming-iming dari negara maju dan berbagai lembaga keuangan untuk meyelesaikan masalah itu dengan dengan cara credit back yang menyeret indonesia kedalam jurang  fiskal akibat adanya indikasi gagal bayar, membuat pihak swasta asing mencabut investasinya di indonesia, alhasil fundamantal ekonomi menurun drastis dan krisis ekonomipun tidak bisa di hindari, sektor makro misalnya proyek-proyek pemerintah terbengkalai, lembaga keuangan dan perusahaan besar yang di biayai dana asing adalah yang paling merasakan dampak krisis moneter kala itu setidaknya krisis perbangkan, akibat longgarnya regulasi dalam sekejab perbankan asing menjamuri pasar uang indonesia yang sedang dalam dahaga ekonomi pada saat itu adalah krisis yang paling mahal pada abad ke-19 yang di tanggung oleh dapur negara berdasarkan rilis IMF.
Sejak pemerintahan orde baru, sistem anggaran telah berubah, dari sistem anggaran defisit menjadi sistem anggaran seimbang, Perubahan sistem ini membawa konsekuensi pada politik penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Dalam sistem anggaran seimbang, besarnya pengeluaran harus sama dengan besaran penerimaan yang diperoleh Negara (NI=Go) ataupun dalam pengertia yang lebih luas, dalam hal ini konsep makro ekonomi (GDP=AD) yang di dalamnya terdapat beberapa variabel seperti C= konsumsi, I= investasi, G= pengeluaran pemerintah, (X-M)= ekspor-impor, ini penting untuk di ketahui karena kita akan membahas 2 (dua) segmen  hutang yaitu hutang LN swasta dan hutang LN pemerintah.
1.2.POSISI HUTANG INDONESIA
1.2.1.      Hutang Luar Negeri Pemerintah (NI=G).
Khusus untuk hutang luar negeri pemerintah yang merupakan hutang yang dilakukan atas assistensi pemerintah dan digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek pemerintah yang di lakukan untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat.
1.2.1.1.Posisi hutang luar negeri pemerintah indonesia.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan yang dikutip vibiznews.com, Selasa (16/04/2013) total utang pemerintah Indonesia hingga Maret 2013 mencapai Rp 1.991,22 triliun dengan rasio 24,1% terhadap PDB.
Dari jumlah tersebut, Rp 588,38 triliun merupakan utang luar negeri yang didapat dari beberapa negara dan juga lembaga-lembaga multilateral. Utang luar negeri ini terus turun dibandingkan akhir 2012 yang sebesar Rp 612,52 triliun.
Tahun ini, nilai belanja APBN mencapai Rp 1.683 triliun. Defisit anggaran tahun depan ditetapkan 1,65% terhadap PDB atau Rp 172,8 triliun, karena penerimaan negara lebih kecil, Untuk menutup defisit tersebut, DPR membolehkan pemerintah menambah utang baru hingga Rp 161,4 triliun.
Ada 3 negara dan 3 lembaga yang paling rajin memberi utang kepada pemerintah Indonesia, antara lain :
3 Negara Terajin Memberi Utang Kepada Indonesia :
1. Perancis, Jumlah utang meski turun tipis dari Rp 21,3 triliun di akhir 2012, namun secara keseluruhan total utang Indonesia ke Perancis hingga Maret 2013 sebesar Rp 21,03 triliun.
2. Jerman, Jumlah utang meski turun dari akhir 2012 yang jumlahnya Rp 20 triliun namun secara keseluruhan total utang Indonesia ke Jerman hingga Maret 2013 sebesar Rp 19,43 triliun.
3. Jepang, Jumlah utang meski turun dari akhir 2012 yang jumlahnya Rp 254,64 triliun namun secara keseluruhan total utang Indonesia ke Jepang hingga Maret 2013 sebesar Rp 235,16 triliun atau yang terbesar.
3        Lembaga Terajin Memberi Utang Kepada Indonesia :
1. Bank Dunia, Jumlah utang Indonesia naik tipis dari akhir 2012 sebesar Rp 122,14 triliun. Secara keseluruhan total utang Indonesia ke Bank Dunia hingga Maret 2013 sebesar Rp 122,38 triliun.
2. Asian Development Bank (ADB), Jumlah utang Indonesia turun dibandingkan akhir 2012 sebesar Rp 100,34 triliun. Secara keseluruhan total utang Indonesia ke ADB hingga Maret 2013 sebesar Rp 98,24 triliun.
3. Islamic Development Bank (IDB), Jumlah utang Indonesia turun dibandingkan akhir 2012 sebesar Rp 5,05 triliun. Secara keseluruhan total utang Indonesia ke Islamic Development Bank (IDB) sebesar Rp 4,93 triliun.
“Namun kondisi hutang pemerintah telah ditanggapi oleh pemerintah sejak tahun lalu, melalui PERPRES, Presiden SBY telah menetapkan pembatasan pinjaman luar negeri yang membebani APBN/APBD. Melalui kebijakan tersebut tampak sejumlah utang luar negeri pemerintah Indonesia yang terus menurun dan menggantinya dalam bentuk surat utang atau obligasi yang di terbitkan sebagai surat utang negara (SUN).”
1.2.2.      Hutang Luar Negeri Swasta.
Khusus untuk hutang luar negeri swasta yang merupakan hutang yang dilakukan atas atau tanpa assistensi pemerintah dan digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek swasta yang di lakukan untuk kepentingan produksi dalam bentuk faktor-faktor produksi (modal) yang  dilakukan perusahaan BUMN, BUMD, BUMS dalam upaya melakukan ekspansi bisnis dan perluasan market share.
1.2.2.1.Posisi utang luar negeri swasta.
Berdasarkan data Bank Indonesia hingga Januari 2013, total utang luar negeri swasta, baik bank maupun bukan bank, telah mencapai US$ 125 miliar. Jumlah tersebut terdiri dari utang sektor keuangan dan jasa perusahaan senilai US$ 33,45 miliar, utang dari sektor industri pengolahan/manufaktur senilai US$ 25,67 miliar, dan sektor pertambangan senilai US$ 21,08 miliar.
“Berbeda dengan hutang luar negeri pemerintah yang menunjukan penurunan hutang luar negeri swasta justru mengalami penigkatan setidaknya itu terjadi dalam catatan selama dua tahun terakhir, menurut saya ada baiknya juga di berlakukan sistem kendali pada hutang luar negeri swasta, karena bagaimanapun dalam persfektif makro trasaksi hutang yang terlalu besar pada hutang LN swasta maupun pemerintah akan berpengaruh pada melemahnya nilai tukar rupiah/Rp terhadap USD berkenaan langsung dengan defisit neraca pembayaran”.
A.    KESIMPULAN
Meskipun sekarang indonesia sudah lepas dari krisis hutang karena besaran gross domestik produk jauh lebih dari pada besaran hutang pemerintah indonesia,  namun resesi ekonomi akibat utang masih mengancam melalui sektor hutang luar negeri swasta Itu dikarenakan indonesia yang merupakan negara berkembang yang menyebabkan banyak pihak yang menginginkan ambil bagian dipasar regional indonesia dengan cara mengalihkan modalnya secara besar-besaran ke pasar indonesia yang menyebabkan ketimpangan neraca pembayaran dan mendorong terjadinya tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar/USD. Jadi dapat di ketahui cara pengurangan nilai hutang yang diambil pemerintah indonesia adalah dengan cara; meningkatkan produktifitas nasioanal; dengan menambah faktor produksi dari dalam negeri maupun dari luar negeri berupa modal asing dengan catatan; akan melakukan impor apabila didalam negeri belum ada atau belum mencukupi contoh; kerja sama alih teknologi  dan kerjasama dalam bentuk korporasi lain.
Dapat diwujudkan dengan cara;
1.      Menegaskan regulasi tentang permodalan dan korporasi asing dalam membentuk tatanan ekonomi yang kondusif.
2.      Meningkatkan transfarasi anggaran dan korporasi proyek-proyek pemerintah.
3.      Mempersiapkan SDM terlibat dalam aktivitas ekonomi.
4.      Agar pemerintah sedapat mungkin mengurangi ketergantungan APBN dari pinjaman luar negeri.
5.      Agar Pemerintah segera Menurunkan bunga sertifikat Bank Indonesia danv mendorong bank-bank nasional agar lebih intensif mengucur kredit sehingga sektor riil dapat bergerak yang pada giliran akan menciptakan lapangan kerja dan memperbaiki perekonomian nasinal secara keseluruhan.

6.      Agar Pemerintah lebih mengefisienkan birokrasai Pemerintah dengan jalan Merestrukturisasi birokrasi pemerintah yang sudah sangat gemuk sehingga dirasa telah memberatkan anggran pemerintah.
CATATAN INDONESIA UNTUK TEMOR LESTE
Uraian artikel sebelumnya menunjukkan sejarah dan dampak yang ditimbulkan oleh hutang luar negeri terhadap indonesia. Semua rekor ini sudah didokumentasi oleh banyak kalangan internasional. Sehingga sangat disayangkan bahwa di saat semua penduduk di negara-negara berkembang sudah menyadari akan bahayanya hutang luar negeri, Timor-Leste justru menjerumuskan diri kepada sebuah “siklus setan” yang ujungnya tidak jelas tersebut, seharusnya pengalaman indonesia dan negara-negara berkembang serta dinamika hutang global dapat dijadikan pelajaran bagi timor leste dalam mengambil kebijakan hutang.
Tidak mudah mendapatkan informasi mengenai hutang luar negeri Pemerintah Timor-Leste yang cendrung tertutup untuk memberikan informasi secara detail mengenai berbagai kondisi dari utang tersebut, tetapi indikasi ini terlihat jelas dengan adanya aliran dana dari portugal yang berkedok pinjaman dan sebesar 40% dari uang itu akan digunakan untuk membeli bahan-bahan dari Portugal.  Itu belum terhitung dengan jumlah tenagara kerja atau yang nota bene “ahli” yang akan didatangkan dari Portugal. Meskipun 60% diklaim akan digunakan untuk membelanjakan bahan-bahan di Timor-Leste, tetapi yang jelas bahwa sedikit yang dapat di ekplorasi untuk ekonomi lokal, karena Timor-Leste adalah negara baru dengan produktifitas rendah. Jadi bisa di tebak 60% itu mungkin akan menyerang ke negara-negara seperti Indonesia, Australia, Singapure.
Disisi lain Adanya indikasi timor leste untuk menambah hutang dari cina secara tidak langsung itu mengilustrasikan bahwa temor leste mulai gerah dengan beban hutang dari portugal yang meliliti mereka dan mereka akan membuka rekenig kredit baru untuk menutup hutang dari portugal dengan kandidat utamanya adalah cina, padahal catatan merah negara-negara berkembang dengan aliran pinjaman dari cina sudah cukup untuk menjadi referensi untuk tidak mengambil tawaran itu.
Ketertutupan Pemerintah temor leste untuk analisis mereka membuat situasi menjadi lebih sulit, karena banyak orang Timor-Leste tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran para pemimpin mereka. Namun dilihat dari kaca mata negara-negara yang memberikan utang, baik itu Cina maupun Portugal, mata mereka sedang tertuju kepada minyak. Sayangnya hingga sekarang, perhitungan Pemerintah mereka tentang harga minyak di masa depan, jangka waktu pembayaran, serta bunga dari utang dan kondisi lain yang terlampir dalam utang ini belum mengemuka ke publik, padahal sudah cukup pengalaman tentang meksiko yang terjerat hutang akibat kekayaan kandungan minyak di perut bumi di regional mesiko.
Tapi disisi lain pemerintah timor leste dihadapi pada kenyataan bahwa mereka harus segera mentranformasikan kekayaan alam mereka secara rill seperti membangun jalan tol, pusat listrik, pelabuhan, lapangan udara. Namun, kita belum dijelaskan, apa yang akan dihasilkan dari semua ini untuk mengembalikan uang untuk membayar kembali utang, Pemerintah kemungkin berargumen bahwa rakyat Timor-Leste membutuhkan jalan raya yang bagus untuk membawa produk mereka untuk dipasarkan di Dili. Tentu saja, tidak ada orang Timor-Lese yang menolak akan pentingnya jalan raya, listrik, dan infrastruktur lain, namun perlu di ingat bahwa dari 70% negara berkembang sekarang adalah negara yang pernah terpukul akibat pembengkakan hutang luar negeri itu artinya tidak banyak negara yang mampu mengelola hutang dengan benar.
Meskipun temor leste terus mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan menurut berbagai sumber dan catatan ekonomi internasioal, “entah karena apa adanya atau atau karena ada apanya?” Namun menurut saya kemungkinan besar di sebabkan karena keterbatasan informasi yang masuk ke kami ataupun yang masuk ke badan survei ekonomi internasional.
Terlepas dari semua itu, kenyataanya perdana menteri temor leste menyatakan secara ekplesit kepada negara sahabatnya dan sekaligus mentornya “indonesia” melalui pertemuan kenegaraan dengan SBY presiden RI di istana negara seperti yang di kutip detik.finance dan meyatakan bahwa; “mereka dalam tekanan hutang luar negeri” perdana mentri temor leste sempat terkejut ketika mendangar jika pemerintah indonesia sudah mengetahui hal itu, selain meminta tanggapan dengan konsultasi langsung terhadap posisi hutang dan ekonomi temor leste juga di bahas mengenal kerja sama potensial kedua negara dan sempat mengemuka bahwa akan ada beberapa perusahaan plat merah indonesia yang akan berekspansi kesana, namun sampai sekarang belum ada “ dikarenakan perseroan sadar bahwa ekonomi temor leste belum memiliki fundamental (strategi stabilisasi) sebaik negara-negara tetangga lain di regional asia tenggara”.
2.1.KESIMPULAN
Untuk saat ini tidak ada pilihan lain bagi temor leste yang sudah terjebak dalam hutang, yang perlu mereka lakukan adalah meningkatkan akuntabilitas dan menigkatkan tranfarasi dari setiap anggaran proyek-proyek pemerintah dalam menigkatkan rasionalitas dari GDP terhadap hutang, dan itu terbukti temor leste mulai menunjukan keberhasilan menurut Buku Saku 2010 dari The Economist, Timor-Leste memiliki surplus tertinggi di dunia lebih dari 280 persen sebagai persentase dari PDB. Ekonomi mereka terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat selama beberapa tahun terakhir, dan masih menurut The Economist, Timor-Leste termasuk salah satu di antara sembilan ekonomi yang paling cepat berkembang di dunia pada tahun 2011 dan sedikit banyak itu berpengaruh terhadap Situasi politik di Timor-Leste dalam beberapa tahun terakhir menunjukan kestabilan.
Daftar Pustaka.
Artikel dan Buku
Rahardjo, Dawam, 2001, Independensi Bank Indonesia dalam Kemelut Politik, PT.Pustaka Cidesindo, Jakarta.
Steiner, George A., 1997, Kebijakan dan Strategi Maanajemen, Penerbit Erlangga, Jakarta
Swasono, Sri Edi, 1997, Pembangunan Tanpa Utang: Utang Luar Negeri dan Ekonomi Indonesia, Republika, Jakarta
Wibowo, Drajat, 2004, Optimalisasi Manajemen Itang Pemerintah, INDEF, Jakarta
Artikel dan blog online
amintintaganja.blogspot.com
Media Online
detik.finance.com
viva.news.com/viva.economic.com
antara.news/antara.economic.com

Minggu, 19 Mei 2013

ECONOMIC CHALENGES OF INDONESIA NOW 2013

Meskipun Indonesia masih bisa mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang positif, ternyata ada beberapa risiko yang akan menghantui di 2013 ini.
pertama adalah terkait ancaman inflasi akibat kenaikan bahan bakar minyak (BBM), "Jika kenaikan harga dengan premium Rp 6.500 dan solar Rp 5.500 maka inflasi sampai akhir tahun total 8,47%. Sementara andil dari BBM adalah 2,77%". Apalagi itu akan di tambah perkiraan arus distribusi dan penigkatan cost distribution karena indonesia terkenal sebagai negara kepulauan dengan jaringan tranfortasi dan infrastuktur pelabuhan yang kurang memadai jadi 2,77% hanya terhitung sebagai harga konstan, sementara secara rill andil BBM dalam inflasi di perkirakan sebesar 4,19%.
Kedua menurut saya adalah peningkatan tekanan pada anggaran pemerintah. Meski sudah ada rencana kenaikan harga BBM bersubsidi itupun masih dalam tahap pembahasan, namun masih mengkhawatirkan anggaran subsidi yang terlalu besar. "Subsidi secara keseluruhan masih sebesar Rp 300 triliun. Itu sudah dengan kenaikan. Kalau tidak kan bisa sampai Rp 400 triliun", tekanan fsikologis memang dominan sebagai pemicu tingkat inflasi dari kenaikan harga BBM “anda bayangkan saja jika harga minyak dunia 10.000,00/L dan di subsidi menjadi 4.500,00/L itu artinya lebih dari 50%/liter yang di konsumsi anda itu ditanggung oleh dapur negara, bayagkan jika ada jutaan barel minyak yang indonesia konsumsi, belum lagi ditambah dengan beban ketidak stabilan harga minyak dunia akan memukul wajah makro ekonomi, hitungan riilnya saya tidak yakin Ʃ= 400 triliun, terbukti beberapa tahun terakhir berdasarkan APBN yang di tetepkan kuota anggaran BBM subsidi 400T selalu jebol ada benarnya juga omongan saya! tapi yang perlu di garis bawahi adalah tidak banyak negara di dunia yang berani memberikan subsidi BBM (primary energy) sebesar 50% dari harga pasar global, jikapun ada itu di lakukan negara kaya minyak (timur tengah) bukan asia tenggara dan INDONESIA yang produksi minyaknya tidak sampai dua digit (dalam jutaan) barel per hari.hha,lucu!
Ketiga adalah Keinginan pemerintah untuk menigkatkan harga BBMpun diprediksi tidak mudah, karena sebuah proses demokrasi penyampaian/orasi aspirasi rakyat yang menderita akibat tingginya tingkat inflasi terutama mereka yang berpendapatan tetap (unprogres income) akan memepengaruhi kestabilan politik dimana terjadi demo dimana-mana dan banyak energi terbuang serta diskusi yang tidak produktif yang melibatkan berbagai element masyrakat.
kempat adalah terkait ketidakseimbangan sektor eksternal yang dipicu oleh meningkatnya impor migas. saya perkirakan neraca perdagangan Indonesia (NPI) sektor migas kembali mencetak defisit ini pun akan langsung berdampak pada nilai tukar rupiah (NTR). "Kalau tidak ada kebijakan khususnya BBM, tekanan terhadap rupiah betul-betul terjadi" dan dala jangka pendek pemerintah harus terlibat dalam riil ekonomic dengan cara pembelian surat-surat berharga untuk menambah jumlah uang yang beredar menurunkan suku bunga dalam mendorong investasi publik serta meringankan tekanan terhadap rupiah (saya rasa untuk sementara itu cukup untu mmeredamnya),  ada untungnya juga negara ini masih punya banyak surflus anggaran sebesar 105 miliar USD nilai yang fantastis tentunya tidak banyak negara yang memiliki surflus anggaran sebesar indonesia.
ke lima adalah peningkatan utang luar negeri swasta. Dalam 2 tahun terakhir saya mencatat peningkatan sebesar 50%, dimana sekarang mencapai US$ 125 miliar. Walaupun itu banyak dilakukan oleh perusahaan multinasional, namun menurut saaya tetap akan berdampak buruk pada perekonomian nasional. "Jadi utang luar negeri swasta yang naik cepat ini mengkhawatirkan, diantara utang pemerintah yang stabil, utang swasta malah nambah".
Melihat resiko tersebut, saya memproyeksi pertumbuhan ekonomi akan berada pada kisaran 6,1% tahun 2013. Artinya dibawah target pemerintah yang memberikan range 6,2 - 6,4%.
Namun setidaknya masih bertahan di posisi 6% itupun sebuah prestasi luar biasa, bukan tanpa alasan BBM yang merupakan bahan baku primer itu bakal terus di konsumsi oleh RT konsumsi, RT produksi, RT disribusi meskipun harus berakibat pada tingginya anka inflasi namun dapat diimbangi dengan pertumbuhan masyrakat kelas menengah mereka di yakini mampu berperan sebagai stabilisasi sekaligus kunci fundamental ekonomi kawasan indonesia khusunya.

Minggu, 24 Maret 2013

PERTUMBUHAN INDUSTRI PENERBANGAN INDONESIA


Perebutan kelas menengah di dirgantara indonesia

“Perebutan kelas menengah dan atas di dirgantara indonesia” kata itulah yang sangat objektif untuk mengambarkan bertapa ketatnya persaingan dilangit indonesia, mengapa demikian?

keberhasilan pembanguna ekonomi indonesia telah memukau dunia dan banyak menuai pujian serta perbincangan dikalangan pengamat ekonomi dan instansi nasional maupun internasional, dalam hal ini; berdasarkan rilis Bank Dunia menyebutkan pertumbuhan kelas menengah di Indonesia sangat cepat. Setiap tahun kelas menengah tumbuh 7 juta setiap tahunya Laporan tersebut menyebutkan juga bahwa terjadi pergeseran yang menakjubkan dalam kelas menengah ini, tahun 2003 jumlah kelas menengah adalah 37,7 persen dari jumlah penduduk menjadi 56,5 persen pada tahun 2012 artinya ada sekitar 147 juta orang indonesia tidak miskin lagi. kelas menengah adalah kelompok manusia yang berpenghasilan  US 1000$/bulan sampai US 5000$/perbulan, atau pendapatan diperkirakan 10 juta ke samapai 50 juta/bulan,(middle income) diatas garis kemiskinan. Mereka adalah kelompok orang yang tidak lagi berpikir makan apa besok?, apa anak-anak mereka masih bisa makan?, bagaimana mencari makan? Mereka melakukan pertimbangan berdasarkan life style (semi hedoisme), produktifitas, mobilitas dan kuwalitas, serta kuantitas adalah pertimbangan ekonomi mereka.

Fenomena ekonomi inilah yang ditanggapi positif utamanya dalam hal mobilitas oleh maskapai-maskapai penerbangan tanah air, baik itu maskapai plat merah (BUMNindo) dan BUMN aing, swasta nasioanal maupun asing. Itu terlihat dari pergerakan cepat para maskapai maskapai itu dalam hal transaksi dan pembelian pesawat, ini tergambarkan oleh apa yang di lakukan oleh maskapai swasta asal indonesia LION AIR setelah pada tahun 2010 mencatatkan rekor transaksi berupa 230an pesawat berbagai tive dari BOEING sebagai raksasa produsen pesawat asal AMIRIKA SERIKAT, kini di 2013 LION AIR kembali berulah dengan mencatatkan rekor fantastis lewat pembelian 230an pesawat berbagai tive dari AIRBUS raksasa produsen pesawat EROPA asal PRANCIS, ini bukan hanya memperlihatkan agresifitas di pasar penerbangan di indonesia, ASEAN dan pasar penerbangan GLOBAL tapi lebih dari itu melibatkan kedua raksasa produsen pesawat DUNIA, yaitu BOEING dan AIRBUS, di perkirakan nilai transaksi yang fantastis ini bisa langsung mengBAILOUT atau memulihkan ekonomi, salah satu negara eropa yang sedang dilanda krisis finansial seperti CYPRUS ini bukan sekedar guyonan para ekonom ini sesuai dengan realitas yang ada, namun kenyataan yang apa dilakukan lionair ini mudah sekali diterka apa maksud LION AIR ialah untuk memancing kedua raksasa produsen pesawat ini untuk menawarkan keuangulan produk masing-masing, Yang menang sudah pasti yang berkwalitas (efektipitas dan efesiensi) sehingga menghasilkan produktifitas inilah yang di inginkan oleh CEO LION AIR @RUSDI KIRANA, selain berhasrat besar untuk melakukan ekspansi dan menguasai pasar penerbangan ASEAN. perlu diketahu ini juga dilakukan oleh maskapai penerbangan lain yang beroperasi di indonesia, belum lagi ditambah dengan pasokan dari produsen pesawat non-unggulan seperti ATR, Sukhoi, Cassa (spanyol) dan Dirgantara Indonesia (PT DI) ataupun produsen pesawat swasta lain, kepada maskapai-maskapai pernerbangan lain yang beroperasi di indonesia.

Lihat gambar pesawat yang dipakai maskapai yang beroperasi di indonesia.



Berbicara kembali pada pangsa pasar LCC (low cost carrier) dan persainagan khususnya indonesia selama ini diramaikan oleh beberapa maskapai diantanya; Lion Air, Air Asia, Garuda, Mandala, Sriwijaya, Susi Air, Wings Air, Batavia air, Merpati air dan lain-lain belum lagi ditambah pendatang baru Citylink, Malindo, Dan Batik Air dan lainya itupun masih jauh dari kata cukup mengambarkan sekali bertapa tingginya permintaan jasa tranfostasi udara ini, anda bisa melihat bertapa sengitnya persaingan di dirgantara indonesia untuk melakukan full service pada setiap costomers, Industri jasa penerbangan memang lagi prosfektif untuk masuk dalam pertimbangan para milioner dan bidikan serius para taipan di dunia khususnya negara berkembang di asia.

Sabtu, 23 Maret 2013

TOP10 TIPS INVESTASI DAN MENJAUH DARI INVESTASI BODONG


Tahun 2012 telah berakhir dan jilid 2013 sudah terbuka.
Jika anda tahun lalu tidak sempat memaksimalkan investasi, tahun ular ini bisa menjadi saat yang tepat untuk memulai. Anda bisa lihat setahun ke belakang, apa saja yang sudah dilakukan dan belum. Masukan semua yang belum bisa anda lakukan ke dalam resolusi tahun baru 2013, terutama resolusi yang bisa membuat investasi anda makin gemuk. Atau bagi anda yang belum pernah berinvestasi, tahun 2013 bisa jadi garis start anda. Beberapa dari kita mungkin gampang lupa akan resolusi atau janji di awal tahun baru karena kurang disiplin atau malas untuk meneruskannya setelah berjalan beberapa minggu. Beberapa tips untuk resolusi tahun politik dan ekonomi, ini tidak begitu sulit dilakukan. Anda hanya perlu niat dan konsisten menjalankannya. Lagipula, semua ini dilakukan demi pertumbuhan investasi anda.
1.      Ambil kendali masa depan anda.
Jika anda sudah muak dengan target investasi anda yang ternyata tidak sesuai harapan, Anda harus siap untuk mengambil kendali atas target finansial anda. Jangan sampai bergantung kepada orang lain untuk mencapai target investasi tersebut. Dengan banyak belajar, anda bisa menguasai berbagai instrumen investasi tanpa harus bergantung kepada perencana keuangan profesional.
2.      Punya rencana investasi yang matang.
Setelah banyak belajar dan mengumpulkan informasi mengenai jenis investasi, rancang rencana investasi anda untuk tahun 2013. Lakukan semua yang ada dalam rencana tersebut secepat dan sebanyak mungkin. Anda bisa mulai dengan membeli emas, saham atau reksa dana.
3.      Alokasi aset harus jadi prioritas.
Bagaimana anda membagi-bagi aset ke dalam instrumen investasi sangat mentukan imbal hasil yang anda peroleh nanti. Diversifikasi investasi merupakan poin yang sangat penting dalam menumbuhkan uang. Kebanyakan orang masih dibingungkan dengan instrumen investasi mana yang paling baik dan mana yang tidak, akhirnya malah ketinggalan. Tanya diri anda sendiri di jenis investasi apakah aset anda sebaiknya disimpan.
4.      Punya manajemen risiko sendiri.
Kira-kira anda siap rugi berapa banyak? Sebelum itu, pastikan anda paham betul bahwa setiap investasi ada risikonya,  setelah itu tinggal menentukan tinggi dan rendahnya risiko tersebut dalam sebuah instrumen. Melakukan diversifikasi investasi merupakan bagian dari manajemen risiko. Tentukan batas-batas supaya jalur investasi anda tidak melenceng.
5.      Punya strategi investasi.
Sangatlah penting untuk memiliki strategi yang tepat dalam berinvestasi, sehingga anda tahu bagaimana memilih instrumen yang tepat. Anda juga bisa kalau anda itu jenis investor seperti apa. Apakah, jangka panjang, pendek atau menengah. Seorang investor yang baik tidak hanya terpaku pada satu strategi, tapi biasanya punya metodologi yang konsisten dan sangat mengerti alasan memilih salah satu instrumen.
6.      Tahan biaya investasi seminimal mungkin.
Biaya investasi yang murah menjadi awal yang baik demi imbal hasil tinggi. Jangan biarkan fee broker yang tinggi menggerus investasi anda. Cari investasi dengan biaya rendah tapi imbal hasil cukup tinggi di atas inflasi tahunan.
7.      Pilah jalur aman untuk investasi.
Memilih jalur aman memang untuk investasi karena ini sangat tergantung pada fundamental ekonomi apalagi pada saat over dan kejenuhan pasar, jalur aman memang bukan hanya mengenai strategi investasi melainkan jalur hijau untuk memprioritaskan dana untuk anda tarik dan anda alokasikan, jika sudah mendapatkan pilihan untuk anda bermain secara agresif dalam mengelembungkan dana serta memilih timing yang tepat untuk anda melakukan profit taking. Saya berika satu gambaran paling aman adalah untuk anda bermain yaitu investasi emas serta barang-barang capital tetap seperti uang asing (dollar), ataupun tanah, saya garis bawahi untuk menyimpan mata uang asing pada saat harga tinggi sangatlah beresiko, apalagi ditambah neraca perdagangan yang tidak stabil hanya akan mempersempit kesempatan anda dalam melakukan profit taking dan memebuat menggelembungan dana, jika harga mata uang asing relatif rendah ini wajib masuk dalam pertimbangkan anda.
8.  Amati fenomena ekonomi.
Mengamati fenomena ekonomi merupakan santapan wajib bagi anda baik sebagai pemula maupun pelanjut, situasi ekonomi regional, Nasional, dan global berpengaruh langsung pada iklim investasi, jangan biarkan investasi anda autopilot dan berjalan sendiri, misalkan menyimpan uang asing itu sangat tergantung pada neraca perdagangan dan neraca pembayaran, artinya anda harus melihat dinamika yang terjadi sehingga menimbulkan prosfek bagi anda, sesungguhnya dinamika yang terjadi itu memancing kedewasaan, dan dibutuhakan sikap yang dinamis dari anda sendiri.

9.      Cari bala bantuan.
Tidak ada yang mengharuskan anda bergerak sendirian. Investasi itu mungkin menjadi milik anda sendiri, tapi bukan berarti anda tidak bisa meminta saran dan masukan dari orang lain. Ada banyak sekali informasi maupun pihak yang bisa membantu anda menghasilkan uang dari instrumen investasi tertentu. Lebih baik lagi jika anda bisa menemukan orang dengan filosofi dan minat berinvestasi yang sama, sehingga bisa saling bertukar pikiran dan pengalaman.


10.      Ikuti Aturan.
Bukan hal yang tidak bijaksana jika anda sudah menyusun seluruh resolusi anda dengan cermat tapi tidak mengikuti aturannya dengan baik. Ikuti semua aturan main yang sudah anda susun sebelumnya. Anda bisa menjalankannya secara agresif jika sudah merasa berada di jalur yang benar. Sebaliknya, jika anda masih ragu sebaiknya jangan dilakukan karena akan membahayakan kesehatan finansial anda.
Sekian, terima kasih!