Analisis makro
ekonomi 2013
Mengawali tahun ular
dalam kalender penanggalan cina, banyak pihak yang khawatir terhadap pressing ekonomi
global akan sangat terasa di tahun ini, memang ada beberapa sektor yang
memerlukan perhatian lebih, diantaranya pasar uang, defisit perdagangan
(ekspor-impor), suku bunga, kredit dan pembiayaan produktif (ril investasion),
sedangkan untuk masalah investasi portopolio rasanaya BEI masih bisa bernapas
lega, pasalnya pasar saham dalam satuan IHSG masih bercokol gagah dengan setelan
hijau, secara konsisten dalam pergerakan yang relatif positif di kalangan bursa
dominan global, terdorong oleh krisis yang melanda eropa dan amirika yang sebelumnya
mendominasi perekonomian dunia investor tidak mau mengambil resiko mereka
memilih segera anggkat koper, banyak investor ingin segera mengalihkan dananya
ke bursa yang merupakan jalur aman untuk mereka bermain, diantaranya adalah bursa
negara-negara berkembang seperti asia yang mulai menunjukan dominasi
perekonomian global.
Analis pasar uang.
Dalam hal ini BI rate
yang konsisten selama 12 bulan terakhir tampaknya menunjukkan BI tak terlalu
khawatir dengan berbagai tekanan ekonomi. Ia mencontohkan dalam tekanan
terhadap valuta asing (valas) terhadap Rupiah. "Ini merupakan konsekuensi logis dari meningkatnya impor dan tingginya permintaan valas, khususnya
dolar AS". Sementara, di sisi
lain tak ada pasokan cukup dari perlambatan ekspor. Hingga akhir Desember 2012, cadangan
devisa mencapai 112,78 miliar dolar AS atau setara 6,1 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Jumlahnya meningkat dibandingkan posisi November 111,285 miliar dolar AS. Tekanan gunung pasir pada pelemahan nilai tukar Rupiah diawal Tahun Ular
2013 mencapai level tertingginya sejak 2009, sekitar Rp 9.740 per dolar AS. Ini semua, karena pasar khawatir defisit transaksi berjalan. Yield
obligasi baru-baru ini juga mencapai level terendahnya di level 5,01 persen
untuk tenor (rentang waktu) hingga 10 tahun, meski baru-baru ini terkoreksi
menjadi 5,18 persen.
saya melihat BI tetap
mempertahankan kehadirannya di pasar melalui intervensi, meskipun ukurannya
terbatas. Untuk saat ini, saya juga melihat kemungkinan BI akan menaikkan
fasilitas deposito (FASBI) untuk meredam tekanan terhadap Rupiah, karena
indikasinya sudah sangat signifikan dirasakan.
Realisasi kredit perbankan
Realisasi kredit usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang disalurkan
perbankan hingga November 2012 masih mencapai 16 persen. Sedangkan Bank Indonesia (BI) mendata rata-rata penyaluran kredit
UMKM sebesar 20 persen per tahun.
Direktur Kredit BPR dan UMKM BI,
Zainal Abidin, mengatakan hingga November 2012, total penyaluran kredit UMKM
bersih mencapai Rp 62 triliun. Sementara target penyaluran 2012, Rp 150
triliun. BI mendata rasio kredit bermasalah (NPL) sektor UMKM secara
keseluruhan mencapai 3,72 persen.
"Nasabah
UMKM itu lebih mempermasalahkan aksesnya. BI selalu mengupayakan supaya akses
tersebut bisa diperoleh dan diberikan perbankan kepada pelaku UMKM,"
Dahulu, BI memperluas akses tersebut
misalnya melalui sertifikasi lahan pada petani, dan asuransi. Sosialisasi dan
bazar intermediasi juga perlu ditambah agar pemahaman nasabah tentang kredit
ini semakin mantap.
Menurut Zainal, sektor UMKM yang
paling besar penyalurannya tahun ini adalah pedagang besar dan eceran, mencapai
47,2 persen. Berikutnya industri pengolahan 10,9 persen, pertanian, perkebunan,
dan kehutanan 7,9 persen, konstruksi 6,2 persen, dan jasa kemasyarakatan,
sosial, dan hiburan 5,2 persen.
Mulai tahun ini, secara bertahap, BI memberlakukan aturan penyaluran
kredit UMKM minimal 20 persen oleh perbankan yang beroperasi di
Indonesia. Pada medio 2013-2014, bank menyalurkan semampunya. Berikutnya pada
2015 mencapai lima persen, 2016 (10 persen), 2017 (15 persen), dan 2018 (20
persen).
"Bank
harus dibiasakan dulu sambil menyusun rencana bisnis bank (RBB) dan 'action
plan' pemenuhan 20 persen tersebut,"
Dengan publikasi dan transparansi
SBDK mikro sebetulnya sudah menciptakan persaingan antarbank dalam menarik
calon debitur.
"Dengan publikasi, calon debitur
bebas memilih bank yang menawarkan bunga kredit terendah. Arahnya nanti,
SBDK mikro akan turun," saya berharap, berharap peraturan SBDK mikro
akan menciptakan persaingan sehat antar bank agar bisa saling menurunkan
suku bunganya.
Menurut saya,
aturan tersebut dapat mendorong transparansi 'pricing' untuk segmen
mikro. Namun, efektivitasnya perlu dilihat lagi. Sebab, segmen mikro lebih
sensitif terhadap ketersediaan akses untuk tingkat pelayanan
untuk mendapatkan modal kerja.
"Jadi, ini bukan semata-mata demi
pricing," SBDK mikro yang ada di Bank Mandiri saat ini porsinya di
kisaran 22 persen.
Berdasarkan data BI, hingga Oktober
2012, dari total Rp 2.615,075 triliun pinjaman yang diberikan di
seluruh provinsi di Indonesia, sebanyak Rp 497,044 triliun atau 19
persennya disalurkan untuk kredit UMKM.
Jika diambil contoh beberapa provinsi, dari Rp 14,754 triliun penyaluran pinjaman ke Papua,
hanya Rp 5,395 triliun untuk kredit UMKM. Berikutnya, dari Rp 6,609
triliun penyaluran pinjaman ke Maluku, hanya Rp 1,773 triliun untuk kredit
UMKM.
Hal ini berbeda dengan DKI Jakarta.
Dari Rp 843,848 triliun pinjaman yang disalurkan, sebanyak Rp 86,78
triliun untuk kredit UMKM. Di Jawa Barat, dari Rp 330,807 triliun pinjaman
yang disalurkan, sebanyak Rp 63,510 triliun untuk kredit UMKM.
Di Yogyakarta, dari Rp 19,685 triliun
pinjaman yang disalurkan, sebanyak Rp 6,135 triliun untuk kredit UMKM.
Di Bali, dari Rp 48,701 triliun pinjaman yang disalurkan, sebanyak Rp
15,503 triliun untuk kredit UMKM.
Bank Indonesia (BI) segera menerbitkan
aturan suku bunga dasar kredit (SBDK) segmen mikro pada Januari ini.
Dengan demikian, seluruh perbankan yang beroperasi di Indonesia mau tak mau
harus transparan memaparkan suku bunga yang berlaku, mulai suku bunga
terendah hingga tertinggi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank
Indonesia (BI) segera menerbitkan aturan suku bunga dasar kredit (SBDK) segmen
mikro pada Januari ini. Dengan demikian, seluruh perbankan yang beroperasi
di Indonesia mau tak mau harus transparan memaparkan suku bunga yang
berlaku, mulai suku bunga terendah hingga tertinggi.
Direktur Currency Management Board,
Farial Anwar, mengatakan selama ini perbankan melakukan aksi
diam-diam sehingga suku bunga antarbank menjadi tak seragam. Perbankan di
Indonesia akibatnya tidak kompetitif sebab perusahaan besar lebih mendominasi
pengelolaan kredit perbankan.
Semua itu kemudian mengakibatkan
bank-bank yang ada di bawahnya, untuk bersaing secara likuiditas,
meningkatkan suku bunganya. Ini berujung pada terbengkalai dan tak
terjangkaunya kredit sektor mikro yang bunganya masih memberatkan nasabah.
"Bank-bank harus menyadari
kewajibannya untuk transparan soal suku bunga. Jangan lakukan aksi diam-diam
dan menggasak bunga dari masyarakat," kata Farial dihubungi melalui
sambungan telepon, Senin (7/1).
Aturan BI nanti, menurutnya, harus
meminta seluruh bank memaparkan suku bunga kreditnya di segala
sektor, terutama bunga kredit mikro, bunga kredit investasi, juga bunga
kredit modal kerja.
Bank harus memaparkan bunga terendah
dan bunga tertingginya. Patokannya, kata Farial, bisa menggunakan BI
rate, juga LPS rate.
Untuk menggenjot penyaluran kredit
UMKM, BI juga membuat kebijakan bank-bank yang beroperasi di Indonesia
wajib menyalurkan 20 persen kreditnya ke sektor UMKM. Farial menilai
memang harus ada aturan khusus yang dipatok BI agar penyaluran kredit
mikro ke sektor UMKM kian terjamin.
Pelaku usaha mikro, kata Farial,
membutuhkan dukungan khusus dalam hal kredit. Bank-bank juga perlu
semakin gencar mengedukasi masyarakat dan meyakinkan nasabah mikronya akan
risiko bisnisnya.
"Secara kolateral, risiko kredit
mikro ini tinggi, makanya bank masih banyak yang belum optimal
menyalurkan kredit mikto. Pemahaman masyarakat akan pengelolaan kredit
belum sepintar perusahaan-perusahaan besar dalam hal memanajemen
dana," beber Farial.
Berdasarkan data BI, hingga Oktober
2012, dari total Rp 2.615,075 triliun pinjaman yang diberikan di
seluruh provinsi di Indonesia, sebanyak Rp 497,044 triliun atau 19
persennya disalurkan untuk kredit UMKM.
Jika diambil contoh beberapa provinsi,
dari Rp 14,754 triliun penyaluran pinjaman ke Papua, hanya Rp
5,395 triliun untuk kredit UMKM. Berikutnya, dari Rp 6,609 triliun
penyaluran pinjaman ke Maluku, hanya Rp 1,773 triliun untuk kredit
UMKM.
Hal ini berbeda dengan DKI Jakarta.
Dari Rp 843,848 triliun pinjaman yang disalurkan, sebanyak Rp 86,78
triliun untuk kredit UMKM. Di Jawa Barat, dari Rp 330,807 triliun pinjaman
yang disalurkan, sebanyak Rp 63,510 triliun untuk kredit UMKM.
Di Yogyakarta, dari Rp 19,685 triliun
pinjaman yang disalurkan, sebanyak Rp 6,135 triliun untuk kredit UMKM.
Di Bali, dari Rp 48,701 triliun pinjaman yang disalurkan, sebanyak Rp
15,503 triliun untuk kredit UMKM.
Bank Indonesia (BI) optimistis
performa Rupiah tahun ini akan menguat. Menurut kaca mata awam saya, defisit
transaksi berjalan (current account), termasuk neraca perdagangan Indonesia
nonmigas tahun ini akan surplus.
Transaksi
berjalan juga disertai dengan surplus transaksi modal dan finansial (capital
account). "Investasi langsung asing (foreign direct
investment), dan portofolio, keduanya masih surplus”.
Imbasnya
secara keseluruhan, neraca pembayaran (balance of payment) masih
surplus. 'Current account' dan 'capital account'
harapannya membaik tahun ini. Sehingga kecenderungan nilai tukar ke depannya
ikut mengalami penguatan. "Sabar saja menunggu kapan
penguatannya,"
Kondisi sisi eksternal ekonomi
Indonesia pada kuartal III-2012 membaik sesuai dengan prakiraan. Ini
tercermin pada defisit transaksi berjalan yang berkurang dan surplus
transaksi modal dan finansial kembali meningkat dari kuartal sebelumnya.
Berdasarkan data BI, surplus transaksi
modal dan finansial tersebut jumlahnya melampaui defisit
transaksi berjalan. Sehingga secara keseluruhan, neraca pembayaran
Indonesia (NPI) berbalik dari defisit 2,8 miliar dolar AS pada kuartal II
2012 menjadi surplus 0,8 miliar dolar AS pada kuartal III 2012.
Cadangan devisa pada akhir November
2012 meningkat menjadi 111,285 miliar dolar AS atau setara 6,1 bulan
impor.
Cadangan devisa ini lebih tinggi
dibandingkan 110,3 miliar dollar AS pada akhir Oktober 2012 dan 110,2
miliar dolar AS pada akhir September 2012.
Hartadi mengatakan Rupiah membaik
karena defisit transaksi berjalan membaik karena impor menurun dan
ekspor membaik sejalan perekonomian dunia.
Sejauh ini fundamental ekonomi
indonesia masih cuku positif, tapi penulis tidak memungkiri, bahwa dalam hal
ini indeks analisis harus diperhatikan
pula secara makro, dalam hal sektor rael kesejahteraan, bukan serta merta
karena ketika laporan indeks stabil, real ekonomi kuat, karena hal ini sangat
tergantung dari langkah-langkah yang mungkin kedepanya akan di ambil pemerintah
yang berdampak langsung dalam perekonomian, diantaranya isu penaikan TDL, penghapusan
subsidi BBM, kenaikan UMP, REDOMINASI mata uang dan sebagainya yang mungkin
akan berpengaruh secara signifikan pada sektor rumah tangga konsumsi,
distribusi dan produksi yang mungkin menyebabkan ekonomi biaya tinggi, serta
tingginya tingkat inflasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar