Meskipun Indonesia masih bisa mencatatkan
pertumbuhan ekonomi yang positif, ternyata ada beberapa risiko yang akan
menghantui di 2013 ini.
pertama adalah terkait ancaman inflasi akibat kenaikan
bahan bakar minyak (BBM), "Jika kenaikan harga dengan premium Rp 6.500 dan
solar Rp 5.500 maka inflasi sampai akhir tahun total 8,47%. Sementara andil
dari BBM adalah 2,77%". Apalagi itu akan di tambah perkiraan arus distribusi
dan penigkatan cost distribution karena indonesia terkenal sebagai negara
kepulauan dengan jaringan tranfortasi dan infrastuktur pelabuhan yang kurang
memadai jadi 2,77% hanya terhitung sebagai harga konstan, sementara secara rill
andil BBM dalam inflasi di perkirakan sebesar 4,19%.
Kedua menurut saya adalah peningkatan tekanan pada
anggaran pemerintah. Meski sudah ada rencana kenaikan harga BBM bersubsidi
itupun masih dalam tahap pembahasan, namun masih mengkhawatirkan anggaran
subsidi yang terlalu besar. "Subsidi secara keseluruhan masih sebesar Rp 300
triliun. Itu sudah dengan kenaikan. Kalau tidak kan bisa sampai Rp 400 triliun",
tekanan fsikologis memang dominan sebagai pemicu tingkat inflasi dari kenaikan
harga BBM “anda bayangkan saja jika harga minyak dunia 10.000,00/L dan di
subsidi menjadi 4.500,00/L itu artinya lebih dari 50%/liter yang di konsumsi
anda itu ditanggung oleh dapur negara, bayagkan jika ada jutaan barel minyak
yang indonesia konsumsi, belum lagi ditambah dengan beban ketidak
stabilan harga minyak dunia akan memukul wajah makro ekonomi, hitungan riilnya
saya tidak yakin Ʃ= 400 triliun, terbukti beberapa tahun terakhir berdasarkan
APBN yang di tetepkan kuota anggaran BBM subsidi 400T selalu jebol ada benarnya juga omongan saya! tapi yang perlu di garis bawahi adalah tidak banyak negara di dunia yang berani memberikan subsidi BBM (primary energy) sebesar 50% dari harga pasar global, jikapun ada itu di lakukan negara kaya minyak (timur tengah) bukan asia tenggara dan INDONESIA yang produksi minyaknya tidak sampai dua digit (dalam jutaan) barel per hari.hha,lucu!
Ketiga adalah Keinginan pemerintah untuk menigkatkan
harga BBMpun diprediksi tidak mudah, karena sebuah proses demokrasi
penyampaian/orasi aspirasi rakyat yang menderita akibat tingginya tingkat
inflasi terutama mereka yang berpendapatan tetap (unprogres income) akan
memepengaruhi kestabilan politik dimana terjadi demo dimana-mana dan banyak
energi terbuang serta diskusi yang tidak produktif yang melibatkan berbagai element masyrakat.
kempat adalah terkait ketidakseimbangan sektor
eksternal yang dipicu oleh meningkatnya impor migas. saya perkirakan neraca
perdagangan Indonesia (NPI) sektor migas kembali mencetak defisit ini pun akan langsung berdampak pada nilai tukar rupiah (NTR). "Kalau tidak ada
kebijakan khususnya BBM, tekanan terhadap rupiah betul-betul terjadi" dan dala jangka pendek pemerintah harus terlibat dalam riil ekonomic dengan cara pembelian surat-surat berharga untuk menambah jumlah uang yang beredar menurunkan suku bunga dalam mendorong investasi publik serta meringankan tekanan terhadap rupiah (saya rasa untuk sementara itu cukup untu mmeredamnya), ada untungnya juga negara ini masih punya banyak surflus anggaran sebesar 105 miliar USD nilai yang fantastis tentunya tidak banyak negara yang memiliki surflus anggaran sebesar indonesia.
ke lima adalah peningkatan utang luar
negeri swasta. Dalam 2 tahun terakhir saya mencatat peningkatan sebesar 50%,
dimana sekarang mencapai US$ 125 miliar. Walaupun itu banyak dilakukan oleh
perusahaan multinasional, namun menurut saaya tetap akan berdampak buruk pada
perekonomian nasional. "Jadi utang luar negeri swasta yang naik cepat ini mengkhawatirkan,
diantara utang pemerintah yang stabil, utang swasta malah nambah".
Melihat resiko tersebut, saya memproyeksi
pertumbuhan ekonomi akan berada pada kisaran 6,1% tahun 2013. Artinya dibawah
target pemerintah yang memberikan range 6,2 - 6,4%.
Namun setidaknya masih bertahan di posisi
6% itupun sebuah prestasi luar biasa, bukan tanpa alasan BBM yang merupakan bahan baku primer itu bakal
terus di konsumsi oleh RT konsumsi, RT produksi, RT disribusi meskipun
harus berakibat pada tingginya anka inflasi namun dapat diimbangi dengan
pertumbuhan masyrakat kelas menengah mereka di yakini mampu berperan sebagai
stabilisasi sekaligus kunci fundamental ekonomi kawasan indonesia khusunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar