Jumat, 15 Maret 2013

MENGATASI MASALAH PERBATASAN


Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai sekitar 81.900 kilometer, memiliki wilayah perbatasan dengan banyak negara baik perbatasan darat (kontinen) maupun laut (maritim). Batas darat wilayah Republik Indonesia berbatasan langsung dengan negara-negara Malaysia, Papua New Guinea (PNG) dan Timor Leste. Perbatasan darat Indonesia tersebar di tiga pulau, empat Provinsi dan 15 kabupaten/kota yang masing-masing memiliki karakteristik perbatasan yang berbeda-beda. Demikian pula negara tetangga yang berbatasannya baik bila ditinjau dari segi kondisi sosial, ekonomi, politik maupun budayanya. Sedangkan wilayah laut Indonesia berbatasan dengan 10 negara, yaitu India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Republik Palau, Australia, Timor Leste dan Papua Nugini (PNG). Wilayah perbatasan laut pada umumnya berupa pulau-pulau terluar yang jumlahnya 92 pulau dan termasuk pulau-pulau kecil. Beberapa diantaranya masih perlu penataan dan pengelolaan yang lebih intensif karena mempunyai kecenderungan permasalahan dengan negara tetangga.
inilah yang mungkin membuat saya rasanya cukup tertantang mengangkat pembicaraan menganai isu perbatasan, selain karena pencaplokan wilayah oleh tetangga-tetangga nakal, hati saya juga terketuk mendengar isu ekonomi dan pendidikan disana yang menciptakan kesenjangan sosial, dan artinya ada jurang pembatas yang cukup curam untuk di daki oleh mereka secara individu tanpa dorongan dari kita semua, selain itu saya juga mendengar isu miris bahwa orang-orang kita disana lebih memilih untuk mengakui mereka adalah orang tetangga sebelah, ketimbang orang indo, coba tanya pada diri anda! "serendah dan sehina itukah anda indonesia"?
sekarang pertanyaan yang tepat adalah siapa penyebanya?, apa sebabnya?
sebenarnya pertanyaan pertama bukanlah pertanyaan yang objektif, itu hanya sebagai pelengkap yaitu pertanyaan subjektif, mengapa demikian?, iya.. sudah barang tentu jika anda orang indonesia anda akan merdiri gagah, membusungkan dada, mengangkat tangan dan berkata "saya adalah orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi di sana" karena itu adalah tanggung jawab kita semua sebagai warga negara dengan mendaya gunakan seluruh kemampuan kita untuk saudara-saudara kita di sana.
pertanyaan kedua mungkin tersimpulkan oleh dua kata yaitu "Kesenjangan" "sosial", kesenjangan sosial  dibagi lagi menjadi dua yaitu; pertama, kesenjangan sosial antara penduduk perbatasan dengan penduduk lain di wilayah indonsia, dan yang kedua adalah kesenjangan sosial antara penduduk perbatasan dengan penduduk negara lain yang berbatasan dengan indonesia, inilah yang sangat penting untuk segera di benahi karena ini menyangkut masalah nasionalisme dan NKRI, kalo ingin negara ini bebas dari segala gangguan baik itu ksternal maupun internal tentu dengan tanpa mengabaikan pertahanan menyangkut kekuatan militer kita sebagai "statement and powering of political" saya cuma ingin mengingatkan bahwa masalah perbatasan merupakan kompleksitas masalah sosial, jadi tidak serta merta masalah fasilitas, infrastruktur, serta alutsista adalah penyebab masalah kesenjangan sosial tersebut.
setidaknya dari kaca mata saya ada beberapa tingkatan opsi yang perlu di pertimbangkan di dalam proses memajukan daerah perbatasan:
PENDEKATAN PENDIDIDKAN
jika di lihat pendekatan pendidikan merupakan opsi yang sangat briliant, anda bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan putra daerah mereka tanpa pendidikan, mereka yang tertinggal, terbelakang dan terpencil akan semakin terkucil apabila pendidikan mereka masih jauh dari apa yang kita harapkan, mereka bukan hanya terisolasi secara geografis tetapi mereka juga akan terisolasi dari zaman, peradaban karena ketidak berdayaan mereka mengimplikasikan teknologi.  jangan dulu langsung berpikir bagaimana mensejahterakan mereka, tanpa proses dan tahapan yang tepat seperti ini, karena ini hanya akan menjadi isapan jempol belaka!, "jangan kayakan mereka dulu apabila jiwa mereka belum cukup kaya", karena jika tidak, kekayaan material mereka akan membunuh jiwa mereka dan sudah barang tentu negara ini belum cukup kaya untuk untuk memberikan bantuan langsung tunai kepada setiap warga miskin secara terus menerus, masalah yang perlu negara ini pikirkan adalah bagaimana memaksa mereka untuk menjadi kaya, tentu juga harus diimbangi dengan penyediaan infrastruktur yang memandai untuk proses penetrasi pendidikan ini agar berjalan baik, jika ini sudah berjalan dengan tepat guna maka tugas selanjutnaya adalah menopang tahapan lanjutan yaitu dari pendekatan ekonomi, terlihat jelas memang, bahwa apa yang saya sampaikan ini mengambarkan kita akan "menyelam sambil minum air" lewat proses pendidikan kita perlahan mencoba menawarkan opsi regulasi ekonomi yang tepat.
PENDEKATAN EKONOMI
Pendekatan ekonomi memang tidak semudah apa yang kita bayangkan bahkan bisa di bilang sangat rumit atau bahkan berkenaan dengan vitalita, karena apa ketika kebijakan regulasi yang salah akan sangat menghambat kita ke tinggkat lanjut, ini juga memerlukan sebuah proses yang sistematis karena kalo tidak perekonomian liberal akan mendandani wajah perekonomian kita, saya berikan sedikit gambaran saja, ketika sumberdaya manusia (SDM) kita belum siap, tapi pemerintah sudah membuka peluang investasi besar-besaran ini otomatis akan menyebabkan  monopoli agraris, industri, jasa atau bahkan niaga dimiliki satu orang atau sekelompok dinasti berkantong tebal dan pada saat itu juga perekonomian kita menjadi sangat labil, fundamental ekonomi kita akan melemah. dan kita kembali pada peradaban kelam perjalan bangsa ini ketika dikuasai oleh pemerintah kolonial sebuah kemunduran yang jauh dari apa yang kita harapkan, jauh dari dugaan. jadi ekonomi bukan hanya tentang bagaimana mensejahterakan, dan pembangunan tapi bagaimana menjadikan ekonomi sebagai sebuah simbol semangat kenegaraan, semangat kemandirian. masalah ekonomi memang menyediakan beberapa pilihan genius yaitu kewirausahaan dan koperasi. karena tidak selamnya trend bursa efek kita menghijau berupa investasi portofolio yang dominasi oleh pemain asing, koperasi dan kewirausahaan adalah tongkat paling sempurna ketika wajah perekonomian kita mulai mulai buram.
apa sekarang anda bisa membayangkan ketika ini berhasil di jalankan, ketika sudah mencapai tingkat pendekatan perekonomian, dan pembangunan akan menjadi hal yang sangat realistis untuk dicapai, rasa damai, kesehatan, kesejahteraan akan menjadi sebuah simbol baru bagi negara (warga negara) yang sudah merdeka sejak 68 tahun lalu ini, artinya apa? kita tidak hanya mengandalkan kekuatan militer dalam berpolitik luar negeri, tetapi kita sudah memiliki alat super therafi untuk membuat negara lain bertekuk lutut di hadapan kita, boro-boro ingin memprovokasi kita, kita lewat di depan mereka saja mereka mengangkat topi dan menundukan kepala. boro-boro mencari masalah dengan kita mereka malah berkirim surat cinta dengan kita. "inilah kekuatan dari PERDAMAI yang sesungguhnya yang diingikan oleh setiap warga negara dan negara pada umumnya di dunia.
lewat kutipan ini saya juga dengan tegas menyampaikan pada setiap lulusan PT dan kalangan akademis, para ulama-ulama agar tidak lagi canggung atau bahkan sungkan untuk menerima tawaran bekerja jika di tempatkan di wilayah terpencil, tertinggal dan terbelakang khusunya perbatasan demi terwujudnya visi/misi bersama untuk pembangunan, "mari kita berfikir positif dengan mengambil peluang sekaligus tantangan yang akan ada kedepanya" .
saya juga ingin menyampaikan bahwa kutipan ini tidak bermaksud untuk melakukan provokasi kepada pihak-pihak terkait, seperti yang di lakukan mantan perdana mentri malay beberapa waktu lalu, kutipan ini hanya sebagai gambaran dan harapan untuk kita menyonsong sebuah era baru dalam perwujudan perdamain dunia. salam DAMAI dan TERIMA KASIH!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar