Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai sekitar
81.900 kilometer, memiliki wilayah perbatasan dengan banyak negara baik
perbatasan darat (kontinen) maupun laut (maritim). Batas darat wilayah Republik
Indonesia berbatasan langsung dengan negara-negara Malaysia, Papua New Guinea
(PNG) dan Timor Leste. Perbatasan darat Indonesia tersebar di tiga pulau, empat
Provinsi dan 15 kabupaten/kota yang masing-masing memiliki karakteristik
perbatasan yang berbeda-beda. Demikian pula negara tetangga yang berbatasannya
baik bila ditinjau dari segi kondisi sosial, ekonomi, politik maupun budayanya.
Sedangkan wilayah laut Indonesia berbatasan dengan 10 negara, yaitu India,
Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Republik Palau, Australia,
Timor Leste dan Papua Nugini (PNG). Wilayah perbatasan laut pada umumnya berupa
pulau-pulau terluar yang jumlahnya 92 pulau dan termasuk pulau-pulau kecil.
Beberapa diantaranya masih perlu penataan dan pengelolaan yang lebih intensif
karena mempunyai kecenderungan permasalahan dengan negara tetangga.
inilah yang
mungkin membuat saya rasanya cukup tertantang mengangkat pembicaraan menganai
isu perbatasan, selain karena pencaplokan wilayah oleh tetangga-tetangga nakal,
hati saya juga terketuk mendengar isu ekonomi dan pendidikan disana yang
menciptakan kesenjangan sosial, dan artinya ada jurang pembatas yang cukup
curam untuk di daki oleh mereka secara individu tanpa dorongan dari kita semua,
selain itu saya juga mendengar isu miris bahwa orang-orang kita disana lebih
memilih untuk mengakui mereka adalah orang tetangga sebelah, ketimbang orang
indo, coba tanya pada diri anda! "serendah dan sehina itukah anda
indonesia"?
sekarang
pertanyaan yang tepat adalah siapa penyebanya?, apa sebabnya?
sebenarnya
pertanyaan pertama bukanlah pertanyaan yang objektif, itu hanya sebagai
pelengkap yaitu pertanyaan subjektif, mengapa demikian?, iya.. sudah barang
tentu jika anda orang indonesia anda akan merdiri gagah, membusungkan dada,
mengangkat tangan dan berkata "saya
adalah orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi di sana" karena itu adalah tanggung jawab
kita semua sebagai warga negara dengan mendaya gunakan seluruh kemampuan kita
untuk saudara-saudara kita di sana.
pertanyaan
kedua mungkin tersimpulkan oleh dua kata yaitu "Kesenjangan"
"sosial", kesenjangan sosial dibagi lagi menjadi dua yaitu;
pertama, kesenjangan sosial antara penduduk perbatasan dengan penduduk lain di
wilayah indonsia, dan yang kedua adalah kesenjangan sosial antara penduduk
perbatasan dengan penduduk negara lain yang berbatasan dengan indonesia, inilah
yang sangat penting untuk segera di benahi karena ini menyangkut masalah
nasionalisme dan NKRI, kalo ingin negara ini bebas dari segala gangguan baik
itu ksternal maupun internal tentu dengan tanpa mengabaikan pertahanan
menyangkut kekuatan militer kita sebagai "statement
and powering of political" saya cuma ingin mengingatkan bahwa
masalah perbatasan merupakan kompleksitas masalah sosial, jadi tidak serta
merta masalah fasilitas, infrastruktur, serta alutsista adalah penyebab masalah
kesenjangan sosial tersebut.
setidaknya
dari kaca mata saya ada beberapa tingkatan opsi yang perlu di pertimbangkan di
dalam proses memajukan daerah perbatasan:
PENDEKATAN
PENDIDIDKAN
jika di
lihat pendekatan pendidikan merupakan opsi yang sangat briliant, anda bisa
membayangkan apa yang bisa dilakukan putra daerah mereka tanpa pendidikan,
mereka yang tertinggal, terbelakang dan terpencil akan semakin terkucil apabila
pendidikan mereka masih jauh dari apa yang kita harapkan, mereka bukan hanya
terisolasi secara geografis tetapi mereka juga akan terisolasi dari zaman,
peradaban karena ketidak berdayaan mereka mengimplikasikan teknologi.
jangan dulu langsung berpikir bagaimana mensejahterakan mereka, tanpa
proses dan tahapan yang tepat seperti ini, karena ini hanya akan menjadi isapan
jempol belaka!, "jangan
kayakan mereka dulu apabila jiwa mereka belum cukup kaya", karena jika tidak, kekayaan material
mereka akan membunuh jiwa mereka dan sudah barang tentu negara ini belum cukup
kaya untuk untuk memberikan bantuan langsung tunai kepada setiap warga miskin
secara terus menerus, masalah yang perlu negara ini pikirkan adalah bagaimana
memaksa mereka untuk menjadi kaya, tentu juga harus diimbangi dengan penyediaan
infrastruktur yang memandai untuk proses penetrasi pendidikan ini agar berjalan
baik, jika ini sudah berjalan dengan tepat guna maka tugas selanjutnaya adalah
menopang tahapan lanjutan yaitu dari pendekatan ekonomi, terlihat jelas memang,
bahwa apa yang saya sampaikan ini mengambarkan kita akan "menyelam sambil minum
air" lewat proses
pendidikan kita perlahan mencoba menawarkan opsi regulasi ekonomi
yang tepat.
PENDEKATAN
EKONOMI
Pendekatan
ekonomi memang tidak semudah apa yang kita bayangkan bahkan bisa di bilang
sangat rumit atau bahkan berkenaan dengan vitalita, karena apa ketika kebijakan
regulasi yang salah akan sangat menghambat kita ke tinggkat lanjut, ini juga
memerlukan sebuah proses yang sistematis karena kalo tidak perekonomian liberal
akan mendandani wajah perekonomian kita, saya berikan sedikit gambaran saja,
ketika sumberdaya manusia (SDM) kita belum siap, tapi pemerintah sudah membuka
peluang investasi besar-besaran ini otomatis akan menyebabkan monopoli
agraris, industri, jasa atau bahkan niaga dimiliki satu orang atau sekelompok
dinasti berkantong tebal dan pada saat itu juga perekonomian kita menjadi
sangat labil, fundamental ekonomi kita akan melemah. dan kita kembali pada
peradaban kelam perjalan bangsa ini ketika dikuasai oleh pemerintah kolonial
sebuah kemunduran yang jauh dari apa yang kita harapkan, jauh dari dugaan. jadi
ekonomi bukan hanya tentang bagaimana mensejahterakan, dan pembangunan tapi
bagaimana menjadikan ekonomi sebagai sebuah simbol semangat kenegaraan,
semangat kemandirian. masalah ekonomi memang menyediakan beberapa pilihan genius
yaitu kewirausahaan dan
koperasi. karena tidak selamnya trend bursa efek kita menghijau berupa
investasi portofolio yang dominasi oleh pemain asing, koperasi dan
kewirausahaan adalah tongkat paling sempurna ketika wajah perekonomian kita
mulai mulai buram.
apa
sekarang anda bisa membayangkan ketika ini berhasil di jalankan, ketika sudah
mencapai tingkat pendekatan perekonomian, dan pembangunan akan menjadi hal yang
sangat realistis untuk dicapai, rasa damai, kesehatan, kesejahteraan akan
menjadi sebuah simbol baru bagi negara (warga negara) yang sudah merdeka sejak
68 tahun lalu ini, artinya apa? kita tidak hanya mengandalkan kekuatan militer
dalam berpolitik luar negeri, tetapi kita sudah memiliki alat super therafi
untuk membuat negara lain bertekuk lutut di hadapan kita, boro-boro ingin
memprovokasi kita, kita lewat di depan mereka saja mereka mengangkat topi dan
menundukan kepala. boro-boro mencari masalah dengan kita mereka malah berkirim
surat cinta dengan kita. "inilah kekuatan dari PERDAMAI yang sesungguhnya
yang diingikan oleh setiap warga negara dan negara pada umumnya di dunia.
lewat
kutipan ini saya juga dengan tegas menyampaikan pada setiap lulusan PT dan
kalangan akademis, para ulama-ulama agar tidak lagi canggung atau bahkan
sungkan untuk menerima tawaran bekerja jika di tempatkan di wilayah terpencil,
tertinggal dan terbelakang khusunya perbatasan demi terwujudnya visi/misi
bersama untuk pembangunan, "mari kita berfikir positif dengan
mengambil peluang sekaligus tantangan yang akan ada kedepanya" .
saya juga
ingin menyampaikan bahwa kutipan ini tidak bermaksud untuk melakukan provokasi
kepada pihak-pihak terkait, seperti yang di lakukan mantan perdana mentri malay beberapa waktu lalu, kutipan ini hanya
sebagai gambaran dan harapan untuk kita menyonsong sebuah era baru dalam
perwujudan perdamain dunia. salam DAMAI dan TERIMA KASIH!
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai sekitar
81.900 kilometer, memiliki wilayah perbatasan dengan banyak negara baik
perbatasan darat (kontinen) maupun laut (maritim). Batas darat wilayah Republik
Indonesia berbatasan langsung dengan negara-negara Malaysia, Papua New Guinea
(PNG) dan Timor Leste. Perbatasan darat Indonesia tersebar di tiga pulau, empat
Provinsi dan 15 kabupaten/kota yang masing-masing memiliki karakteristik
perbatasan yang berbeda-beda. Demikian pula negara tetangga yang berbatasannya
baik bila ditinjau dari segi kondisi sosial, ekonomi, politik maupun budayanya.
Sedangkan wilayah laut Indonesia berbatasan dengan 10 negara, yaitu India,
Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Republik Palau, Australia,
Timor Leste dan Papua Nugini (PNG). Wilayah perbatasan laut pada umumnya berupa
pulau-pulau terluar yang jumlahnya 92 pulau dan termasuk pulau-pulau kecil.
Beberapa diantaranya masih perlu penataan dan pengelolaan yang lebih intensif
karena mempunyai kecenderungan permasalahan dengan negara tetangga.
inilah yang
mungkin membuat saya rasanya cukup tertantang mengangkat pembicaraan menganai
isu perbatasan, selain karena pencaplokan wilayah oleh tetangga-tetangga nakal,
hati saya juga terketuk mendengar isu ekonomi dan pendidikan disana yang
menciptakan kesenjangan sosial, dan artinya ada jurang pembatas yang cukup
curam untuk di daki oleh mereka secara individu tanpa dorongan dari kita semua,
selain itu saya juga mendengar isu miris bahwa orang-orang kita disana lebih
memilih untuk mengakui mereka adalah orang tetangga sebelah, ketimbang orang
indo, coba tanya pada diri anda! "serendah dan sehina itukah anda
indonesia"?
sekarang
pertanyaan yang tepat adalah siapa penyebanya?, apa sebabnya?
sebenarnya
pertanyaan pertama bukanlah pertanyaan yang objektif, itu hanya sebagai
pelengkap yaitu pertanyaan subjektif, mengapa demikian?, iya.. sudah barang
tentu jika anda orang indonesia anda akan merdiri gagah, membusungkan dada,
mengangkat tangan dan berkata "saya
adalah orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi di sana" karena itu adalah tanggung jawab
kita semua sebagai warga negara dengan mendaya gunakan seluruh kemampuan kita
untuk saudara-saudara kita di sana.
pertanyaan
kedua mungkin tersimpulkan oleh dua kata yaitu "Kesenjangan"
"sosial", kesenjangan sosial dibagi lagi menjadi dua yaitu;
pertama, kesenjangan sosial antara penduduk perbatasan dengan penduduk lain di
wilayah indonsia, dan yang kedua adalah kesenjangan sosial antara penduduk
perbatasan dengan penduduk negara lain yang berbatasan dengan indonesia, inilah
yang sangat penting untuk segera di benahi karena ini menyangkut masalah
nasionalisme dan NKRI, kalo ingin negara ini bebas dari segala gangguan baik
itu ksternal maupun internal tentu dengan tanpa mengabaikan pertahanan
menyangkut kekuatan militer kita sebagai "statement
and powering of political" saya cuma ingin mengingatkan bahwa
masalah perbatasan merupakan kompleksitas masalah sosial, jadi tidak serta
merta masalah fasilitas, infrastruktur, serta alutsista adalah penyebab masalah
kesenjangan sosial tersebut.
setidaknya
dari kaca mata saya ada beberapa tingkatan opsi yang perlu di pertimbangkan di
dalam proses memajukan daerah perbatasan:
PENDEKATAN
PENDIDIDKAN
jika di
lihat pendekatan pendidikan merupakan opsi yang sangat briliant, anda bisa
membayangkan apa yang bisa dilakukan putra daerah mereka tanpa pendidikan,
mereka yang tertinggal, terbelakang dan terpencil akan semakin terkucil apabila
pendidikan mereka masih jauh dari apa yang kita harapkan, mereka bukan hanya
terisolasi secara geografis tetapi mereka juga akan terisolasi dari zaman,
peradaban karena ketidak berdayaan mereka mengimplikasikan teknologi.
jangan dulu langsung berpikir bagaimana mensejahterakan mereka, tanpa
proses dan tahapan yang tepat seperti ini, karena ini hanya akan menjadi isapan
jempol belaka!, "jangan
kayakan mereka dulu apabila jiwa mereka belum cukup kaya", karena jika tidak, kekayaan material
mereka akan membunuh jiwa mereka dan sudah barang tentu negara ini belum cukup
kaya untuk untuk memberikan bantuan langsung tunai kepada setiap warga miskin
secara terus menerus, masalah yang perlu negara ini pikirkan adalah bagaimana
memaksa mereka untuk menjadi kaya, tentu juga harus diimbangi dengan penyediaan
infrastruktur yang memandai untuk proses penetrasi pendidikan ini agar berjalan
baik, jika ini sudah berjalan dengan tepat guna maka tugas selanjutnaya adalah
menopang tahapan lanjutan yaitu dari pendekatan ekonomi, terlihat jelas memang,
bahwa apa yang saya sampaikan ini mengambarkan kita akan "menyelam sambil minum
air" lewat proses
pendidikan kita perlahan mencoba menawarkan opsi regulasi ekonomi
yang tepat.
PENDEKATAN
EKONOMI
Pendekatan
ekonomi memang tidak semudah apa yang kita bayangkan bahkan bisa di bilang
sangat rumit atau bahkan berkenaan dengan vitalita, karena apa ketika kebijakan
regulasi yang salah akan sangat menghambat kita ke tinggkat lanjut, ini juga
memerlukan sebuah proses yang sistematis karena kalo tidak perekonomian liberal
akan mendandani wajah perekonomian kita, saya berikan sedikit gambaran saja,
ketika sumberdaya manusia (SDM) kita belum siap, tapi pemerintah sudah membuka
peluang investasi besar-besaran ini otomatis akan menyebabkan monopoli
agraris, industri, jasa atau bahkan niaga dimiliki satu orang atau sekelompok
dinasti berkantong tebal dan pada saat itu juga perekonomian kita menjadi
sangat labil, fundamental ekonomi kita akan melemah. dan kita kembali pada
peradaban kelam perjalan bangsa ini ketika dikuasai oleh pemerintah kolonial
sebuah kemunduran yang jauh dari apa yang kita harapkan, jauh dari dugaan. jadi
ekonomi bukan hanya tentang bagaimana mensejahterakan, dan pembangunan tapi
bagaimana menjadikan ekonomi sebagai sebuah simbol semangat kenegaraan,
semangat kemandirian. masalah ekonomi memang menyediakan beberapa pilihan genius
yaitu kewirausahaan dan
koperasi. karena tidak selamnya trend bursa efek kita menghijau berupa
investasi portofolio yang dominasi oleh pemain asing, koperasi dan
kewirausahaan adalah tongkat paling sempurna ketika wajah perekonomian kita
mulai mulai buram.
apa
sekarang anda bisa membayangkan ketika ini berhasil di jalankan, ketika sudah
mencapai tingkat pendekatan perekonomian, dan pembangunan akan menjadi hal yang
sangat realistis untuk dicapai, rasa damai, kesehatan, kesejahteraan akan
menjadi sebuah simbol baru bagi negara (warga negara) yang sudah merdeka sejak
68 tahun lalu ini, artinya apa? kita tidak hanya mengandalkan kekuatan militer
dalam berpolitik luar negeri, tetapi kita sudah memiliki alat super therafi
untuk membuat negara lain bertekuk lutut di hadapan kita, boro-boro ingin
memprovokasi kita, kita lewat di depan mereka saja mereka mengangkat topi dan
menundukan kepala. boro-boro mencari masalah dengan kita mereka malah berkirim
surat cinta dengan kita. "inilah kekuatan dari PERDAMAI yang sesungguhnya
yang diingikan oleh setiap warga negara dan negara pada umumnya di dunia.
lewat
kutipan ini saya juga dengan tegas menyampaikan pada setiap lulusan PT dan
kalangan akademis, para ulama-ulama agar tidak lagi canggung atau bahkan
sungkan untuk menerima tawaran bekerja jika di tempatkan di wilayah terpencil,
tertinggal dan terbelakang khusunya perbatasan demi terwujudnya visi/misi
bersama untuk pembangunan, "mari kita berfikir positif dengan
mengambil peluang sekaligus tantangan yang akan ada kedepanya" .
saya juga
ingin menyampaikan bahwa kutipan ini tidak bermaksud untuk melakukan provokasi
kepada pihak-pihak terkait, seperti yang di lakukan mantan perdana mentri malay beberapa waktu lalu, kutipan ini hanya
sebagai gambaran dan harapan untuk kita menyonsong sebuah era baru dalam
perwujudan perdamain dunia. salam DAMAI dan TERIMA KASIH!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar