Jumat, 11 Januari 2013

LANGKAH MENUJU 2% ENTERPRENEUR di TAHUN 2014


LANGKAH MENUJU 2% ENTERPRENEUR di TAHUN 2014
David Mc Clelland menyatakan bahwa suatu negara bisa menjadi makmur bila entrepreneur (pengusaha) minimal 2% dari jumlah penduduknya jika tidak mau di cap sebagai negara gagal. Namun kabar bagus menghampiri kita dari berbagai rilis media, Pada tahun 2012, angka pengusaha di Indonesia mencapai 1,56 persen. Kenaikan yang cukup signifikan dibanding tahun 2011 (0,24 persen) dan 2010 (0,18 persen). Hal ini sejalan dengan menurunnya angka pengangguran terbuka di Indonesia yang menurun hingga 6% per Februari 2012 (7,61 juta orang) dari Februari 2011 (8,12 juta orang).
Program Pemerintah untuk meningkatkan jumlah pengusaha diIndonesia mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Tak jarang, masyarakat dengan usia muda pun berani menjadi seorang pengusaha. Namun, mental pengusaha saja tidak cukup untuk memulai suatu usaha. Dukungan dari penyedia modal menjadi salah satu sektor terpenting dalam berwirausaha. Terutama, bagi pemula bisnis dengan modal minim. 
Namun pada kenyataannya, meminjam modal ke perbankan tidak semudah membalikkan telapak tangan, khususnya bagi pembisnis pemula. Alasannya adalah para perintis bisnis ini belum mendapat akses perbankan (unbankable) karena belum teruji profil bisnisnya.
Menanggapi fenomena ini, bamyak perbankan mulai melirik peluang ekspansi pada jalur ini, mereka mulai menawarkan produk dan jasa baru perbankan dalam memudahkan akses wirausaha dalam permodalan, selain itu pemerintah melalui UMKM juga cepat bertindak mengatasi masalah yang terbilang klasik dalam perkembangan kewirausahaan dewasa ini melalui KUR dan lain-lain.
Rasulullah bersabda, “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya untuk apa dia gunakan, (2) tentang ilmunya, sejauh mana dia amalkan ilmunya tersebut, (3) tentang hartanya, dari mana harta tersebut didapatkan dan untuk apa harta tersebut dibelanjakan, dan (4) tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.”  (Riwayat At-Tirmidzi).
Hadits diatas tentunya memacu angkatan-angkatan baru Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim terbesar didunia untuk mengamalakan serta menjalankan prinsif dan khazanah pemikiran islam dalam pelaku dunia.
Dalam hadits yang lain juga di jelaskan bahwasanya ketika rasulullah ditanya oleh salah seoramg sahabatnya, mengenai usaha apa yang paling baik? Sasulullah menjawab: usaha yang paling baik adalah usaha yang diusahakan oleh tanganya sendiri dan setiap jual beli yang bersih. Hadits ini menjelaskan bahwasanya setiap kegiatan usaha harus dilakukan dengan tangan dan cara yang bersih, jujur, bertanggung jawab serta saling menguntungkan. Dalam era modern kita juga mengenal apa yang kita sebut dengan etika bisnis, dalam bisnis kita harus memiliki frinsip dasar ini, karena sekali saja konsumen kecewa dengan pruduk dan pelayanan kita mereka dengan mudah berpindah dan mengkonsumsi produk lain, maka dari itu rasanya tidak berlebihan apabila saya mengangkat filosofis Management pemasaran “jangan beri kesempatan pada costomer anda untuk berpindah atau mengkonsumsi produc lain” rasanya ini juga perlu mendapat banyak perhatian bagi pembisnis, karena disinilah pertimbangan mencakup asfek bisnis yang sangat kompleks keterjangkauan harga, tempat, kwalitas produk dan nilai guna serta promosi dan publikasi dengan memperhatikan konsep-konsep sosial dan budaya serta kebiasaan.  dalam hal ini kita juga harus memperhatikan hubungan yang saling menguntungkan, dam kepuasan konsumen adalah home work bagi setiap pelaku bisnis dan enterpreneur.
1.      DORONGAN DUNIA KAMPUS
Dunia kampus memiliki potensi besar dalam melahirkan wirausaha handal yang sangat dibutuhkan bagi perekonomian nasional. Karenanya di tengah persaingan global dewasa ini, perguruan tinggi bisa mencetak entrepreneur lebih banyak.  Dari Kampus Kita Membangun Bangsa. “Perguruan Tinggi berpeluang besar menjadikan Indonesia lebih baik. Karena para sarjana lulusannya, diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja signifikan bagi pembangunan perekonomian nasional”.
Saat ini kondisi entrepreneurship Indonesia masih berada pada langkah-langkah awal pertumbuhan. Karena itu, masih diperlukan semangat yang kuat untuk menciptakan para entrepreneur baru. Salah satu caranya adalah dengan mendorong munculnya para entrepreneur muda dari lingkungan kampus. Anda bayangkan saja  apabila setiap lulusan SMA sederajat dan Strata1 dibekali dengan program kewirausahaan, akan ada banyak keuntungan  pertama, berapa banyak wirausaha muda terlahir. kedua, berapa orang terserap dalam setiap kegiatan usahanya. Dan ketiga, ketika mereka tidak terserap oleh lapangan kerja yang ada, mereka tidak perlu resah karena mereka sudah dididik untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Dalam rangka memasuki pintu kebijakan Asean Economic Community tahun 2015 mendatang, Indonesia harus melakukan pembenahan secara tepat dan cermat. Khususnya dalam meningkatkan jumlah entrepreneur muda yang akan berkontribusi dan berkompetisi dalam pembangunan ekonomi nasional era perdangangan bebas.
Karenanya melalui sistem pendidikan yang berbasis minat dan bakat mahasiswa, diharapkan dapat memunculkan fokus dan potensi entrepreneurship di kalangan mahasiswa. Melalui konsep satu entrepreneur untuk setiap entrepreneur, diharapkan setiap entrepreneur memiliki tingkat daya saing yang tinggi. 
Sehingga kita bersaing di kawasan regional dan kawasan lain yang lebih luas. Mengutip kalimat Peter Ducker; "The best way to predict future is to create it, cara baik dalam memprediksi masadepan adalah menciptakanya”. setiap kita harus terus membangun optimisme untuk Indonesia yang lebih baik, dengan semangat entrepreneurship.
2.      PENGGIATAN EKONOMI ISLAM
Meningkatkan ekonomi umat Islam menjadi bagian tanggung jawab intelektual Muslim. Karena itu, pimpinan perguruan tinggi (PT) di ASEAN harus membentuk jaringan intelektualnya untuk tugas pemberdayaan umat tersebut. (dikutip dari media) Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Dr. Edy Suandi Hamid “menyatakan tugas jejaring intelektual Islam di antaranya mengembangkan tradisi entrepreneur di kalangan umat. “Umat Islam masih kurang yang menjadi entrepreneur. Kondisi ini berseberangan dengan tradisi Rasulullah Muhammad Saw, yang mengisi masa hidupnya sebagai wiraswastawan dibidang perdagangan.
Saya merasa prihatian berdasarkan data, kondisi umat Islam yang jumlahnya mencapai hampir seperempat arial total penduduk dunia hanya menyumbang 6,8% ekonomi dunia. Bahkan, lebih miris lagi kondisi ekonomi umat Islam justru terbanyak sebagai penduduk miskin, 39%, hanya 10% masuk pendidikan tinggi, dan 1,5% terlibat pendidikan.
Pendidikan tinggi jangan menjadi menara gendang, yang hanya memiliki konsep, tetapi hanya melihat kondisi nyata ditingkat akar rumput. Sekali lagi, Lembaga pendidikan tinggi diharapkan memberikan perhatian lebih banyak untuk menciptakan generasi wirausahawan muslim melalui pendidikan ataupun pelatihan.
3.      PENANAMAN IDIOLOGI WIRAUSAHA TINGKATKAN KEMAKMURAN
           

Memang terkadang nilai seseorang itu dilihat dari apa yang disampaikan dan apa yang dilakukannya, bukan bermaksud mendeskriminasikan seseorang atau pun men-judge sesuatu dengan apapun, tapi memang benar bahwa mindset pikiran kita dan intonasi ucapan kita sangatlah dipengaruhi oleh lingkungan apalagi pekerjaan. Seorang pejuang, pasti jelas apapun yang ucapkannya sangatlah menggebu-gebu, seorang sinden, mungkin gaya bahasanyapun serasa mendayu-dayu, seorang satpam intonasinya pun juga tegas, jelas dan agak sedikit keras. Tapi di sini saya akan mengulas sebab muasal mengapa bisa sampai seperti itu.
Rasanya tidak berlebihan apabila saya menyatakan “profesi lah yang membuat anda hidup tapi sebaliknya pada profesi lah anda mengehembuskan nafas terakhir” memanng terlihat sederhana apabila saya menggambarkan seorang enterpreneur sebagai profesi padahal lebih dari itu enterpreneur adalah pola fikir berkembang, memperjuangkan, pahlawan keharmonisan dan kesejahteraan, namun sekali lagi ini hanya cara saya mendiskrifsikan seorang interpreneursif,  saya perlihatkan contoh misalnya seorang teroris mati tertembak, sopir angkot mati kecelakaan di anggkot. Jadi tidak salah apabila profesi anda menentukan takdir hidup dan mati anda, namun masalahnya anda dan profesi serta takdir anda selalu memiliki pilihan. Hidup dalam profesi yang baik ”insaallah” anda akan mati dalam keadaan baik, hidup dalam profesi yang tidak baik maka takdir anda kemungkinan besar mati dalam keadaan tidak baik, tapi sebaik-baiknya mati adalah anda mati sebagai pejuang yang di muliakan (jihat), memperjuangkan anda sendiri, orang lain, bangsa, negara dan dunia. (bukan dengan menciptakan permusuhan dan kehancuran). #saya tidak akan mengulas jauh ke masalah jihat karena pembahasan jihat tidak cukup sampai satu atau dua bab saja, dalam islam jihat itu sangat luas ruang lingkupnya.
1.      Berbicara tentang kegagalan
Seorang Alva Edison tidak akan berhasil menemukan lampu, jika dia berhenti di percobaan ke 999 kali. Bayangkan saja jika ternyata dia menyerah. Maka dia tidak akan terkenal hingga sekarang. Kegagalan kita merupakan salah satu alat bagi kita untuk lebih melatih pendewasaan diri kita, melatih kita dengan kondisi yang memang berada diluar batas pikiran kita karena memang keilmuan tidak terbataskan apapun baik fisik, waktu, dan tempat.
Tidak salah jika ketika saya bertemu seorang pengusaha muda, saya langsung mendoakan “semoga usaha Anda segera bangkrut”. Agak aneh begitu mendengarnya? Tetapi nilai filosofisnya tinggi dari kata sesederhana dan senyeleneh itu, Karena dengan adanya masalah secara tidak langsung Allah ingin menaikkan derajat kita dan ingin melatih kita menjadi pengusaha yang siap mental. Maklum, mental sangat bermain jika ingin menjadi seorang pengusaha. Oleh karena itu, kedatangan masalah dalam hidup kita seharusnya bisa disyukuri, karena masalah menjadi satu jalan untuk kita berusaha, untuk kita belajar gratis. Ketika tidak ada masalah, cari lah masalah, atau ekstrimnya lagi, tinggal tantang aja tuh masalah, masalah ayo datang, ayo datang, hingga nantinya masalah menjadi bosan untuk sekedar mampir dalam hidup kita.
2.      Berbicara tentang kedudukan pedagang/wirausahawan.
Inilah yang menjadi satu ketertarikan tersendiri jika berbicara mengenai pengusaha. Bagi seorang muslim, maka jelas dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasullah pernah menyatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah melalui pintu berdagang dan dalam kesempatan lain ketika rasulluallah diTanya oleh salah seorang sahabat mengenai; usaha apa yang palin baik? Rasulluallah  (al-hadits) halaman 3. Ini artinya aktivitas dagang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Melalui jalan inilah, pintu-pintu rezeki akan dapat dibuka.
ANALISIS PROSPEKTIF WIRAUSAHA DALAM MENCIPTAKAN POROS PEREKONOMIAN NASIONAL
Jumlah pengusaha diIndonesia saat ini hanya 1,56%  dari total penduduk atau sekitar 3.697.000 orang. Untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, jumlah ideal pengusaha Indonesia semestinya 4.740.000 dari asumsi total penduduk 237 juta jiwa. Artinya, dari kondisi ideal tersebut maka Indonesia masih kekurangan sekitar 4.171.200 orang wirausahawan. Peluang yang sangat besar apalagi bila kita melihat jumlah penduduk kelas menengah terus meningkat, berdasarkan rilis media Online, detikfinence.com penduduk kelas menengah Indonesia 56,5% dari jumlah penduduk Indonesia berarti ada sekitar 150.550.000 penduduk Indonesia dengan tingkat konsumsi yang cukup tinggi sebagai pasar yang potensial, kabar baik bagi para pencinta tantangan, jadi tidak salah jika pemerintah confidance apabila pertumbuhan ekonomi kita masih bercokol di atas angka 6% dan wirausaha adalah tiang penguatan kedua setelah iklim investasi yang meneunjukan tern positif, baik itu yang di tunjukan oleh kinerja lantai bursa pada awal januari 2013 yang berhasil menembus rekor baru yaitu di level 4800 bertapa masih tingginya eksistensi emiten-emiten di BEI, serta BKPM, Dll. namun perlu di ketahui juga ini artinya juga memudahkan dana asing atau badan usaha masuk ke Indonesia yang memungkinkan menyebabkan lebih kompetitifnya pasar di Indonesia, namun juga sangat perlu diperhatikan di sekala makro lain seperti defisit perdagangan, tingkat inflasi, nilai tukar rupiah, jangan sampai kehilangan kendali jika tidak mau perekonomian kita lesu yang akan berimbas langsung pada kesemerautan mikro, kesejahteraan, infrastruktur, dll.
Sebagai gambaran, kondisi berbeda terjadi di negara-negara maju seperti tetangga kita, Singapura. Persentase jumlah pengusaha dinegeri Singa itu mencapai 7,20 persen dari total penduduknya. Sementara India yang merupakan negara yang tengah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, memiliki pengusaha sekitar 11 persen dari total penduduknya yang berjumlah 1,2 miliar jiwa.
Dari rasio 3.967.000 orang pengusaha yang ada di Indonesia, sebagian gambaran pengusaha muda 0,25 persen dari total jumlah penduduk dan 73% dari total wirausaha diIndonesia. Sebagai perbandingan Malaysia yang jumlah pengusaha mudanya mencapai angka 16% dari jumlah penduduk, artinya bahwa Indonesia tertinggal sangat jauh.
Salah satu variabel yang menjadi faktor penyebab masih rendahnya minat wirausaha di Indonesia adalah karena sebagian besar pemuda masih terjebak pada orientasi instant dan  tingginya penyerapan pegawai, baik pegawai negeri maupun pegawai swasta dewasa ini menjadi satu dilema tersendiri, bahkan seharusnya kita [kata salah satu wirausaha muda] bisa lebih menginspirasi masyarakat bagaimana wirausaha mampu menjadi satu penggerak perekonomian tersendiri di Indonesia.
Satu hal yang dapat disimpulkan, ternyata entrepreneur menjadi satu tonggak pelecut perekonomian Indonesia. Dilihat dari statistik diatas, Indonesia masih sangat membutuhkan satu poros penampung pengangguran yang memang selama ini terus berkembang.
Statemen Paling Menggugah!
Dalam salah satu bahasannya, seorang pengusaha muda pernah memberikan suatu fakta yang cukup menarik, mungkin lebih jelasnya agak menyinggung realita yang ada sekarang. Ini saya kaitkan dengan keadaan yang ada sekarang.
Saya cukup bingung dengan beberapa kalangan mahasiswa yang selalu berteriak-teriak tentang korupsi, tentang BBM, tentang kebijakan dan moralitas. Demonstrasi yang berjamaah, merusak fasilitas, bahkan ada yang sampai merusak dengan cara membakar fasilitas tersebut. Faktanya, Idealisme seperti itu, (idealisme mahasiswa) hanya ada pada saat mereka mahasiswa saja.
Banyak sekali mahasiswa yang sudah bekerja pada reallife, idealisme mereka menjadi luntur akibat system berantai yang memang menuntut mereka untuk menjadi follower, bukan semata-mata menegakkan idealisme yang dulunya ketika mahasiswa membara dan menggebu-gebu. Ada juga mahasiswa yang dulunya sering berorasi menolak sana sini, lalu setelah dia lulus, dia bekerja diperusahaan luar (sebut saja freeport), dengan begitu bangganya dia memasang profil dijejaring sosialnya, lalu pertanyaannya sekarang, apa beda mereka dengan koruptor? Perusahaan asing (yang ada sekarang), jelas-jelas sangat merugikan Indonesia, mengangkut sumber daya yang ada di Indonesia untuk kemakmuran negaranya. Kita dengan dampak yang memang sudah terasa jelas, hanya menikmati tidak lebi dari 2% dari ekplorasi lahan seluas 6000 hektar. Sekarang saya ingin bertanya pada abang-abang yang sudah bekerja itu, “Apa itu yang disebut idealisme?”
Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan, jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 35 juta orang. Namun, Bank Dunia menyebutkan ada 100 juta jiwa, jauh lebih besar dari yang disebutkan BPS. Berita di berbagai media massa pada 13 November 2010 menyebutkan ada dugaan manipulasi data oleh BPS meski lembaga itu juga membantah kritikan tersebut. Menurut BPS, perbedaan antara Bank Dunia dan BPS pada kriteria untuk menentukan garis kemiskinan.
Semakin tinggi garis kemiskinan yang kita pakai, semakin besar jumlah orang miskin yang kita peroleh. Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan yang lebih tinggi daripada yang digunakan BPS. Mana yang benar? Siapa yang disebut miskin? Apa ciri-ciri orang miskin? Para pengemis di jalanan diJakarta? Mereka yang kurus? Mereka yang berada dalam lingkungan hidup yang buruk? Mereka yang tidak pernah makan daging? Mereka yang sakit-sakitan? Mereka yang tidak berpendidikan? Terlepas dari hal itu Konsep kemiskinan memang sangat luas, “ucap saya mengalah” mungkin saja bank dunia menngunakan standar dengan tingkat kesejahteraan kingdom of england, dan kingdom of amirican state .
Banyak pertanyaan yang dapat diajukan untuk menentukan siapa yang disebut miskin. Seorang kawan bahkan pernah memberi tahu bahwa kemiskinan harus diukur secara holistik, yang mencakup kemiskinan spiritual. Saya mengerti maksudnya, namun saya terbentur bagaimana mengukur kemiskinan yang holistik tersebut. Sampai saat ini kita memang belum mempunyai suatu statistik yang dapat mengukur kemiskinan secara holistic, saya juga orang akademis dan akan menggunakan prosedur ilmiah saya tadak mau beranda-andai dalam mengunakan standar sebagai dasar pijkan, sebenarnya bisa saja saya menngunakan pijakan pendekatan trata pendidikan pormal sebagai ukuranya, namun itu tidak menjamin realitas personal karena hal yang sebelumnya saya bahas diatas.
Persoalan menentukan siapa orang miskin juga terkait penentuan apa yang menjadi tujuan pembangunan. Kalau tujuan pembangunan sekadar percepatan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita, kemiskinan cukup dihitung dengan pengeluaran untuk konsumsi individu.
Hal itulah yang telah dilakukan BPS dan Bank Dunia. Mereka hanya memfokuskan pada pengeluaran konsumsi individu. Statistik mereka tidak mencakup status kesehatan, ketersediaan air bersih, ketersediaan udara bersih, rasa aman, dan banyak lagi. Banyak negara dan lembaga internasional memakai cara pengukuran seperti ini karena memang relatif mudah.
Meski begitu, persoalan berikutnya adalah bagaimana menentukan garis kemiskinan. Berapa pengeluaran maksimal untuk konsumsi seorang individu agar dapat disebut sebagai orang miskin? Persoalan menjadi tambah sulit karena kebutuhan minimal tiap orang dapat berbeda, bergantung pola konsumsinya. Contoh mencolok adalah ada orang yang harus makan daging untuk kebutuhan protein, dan ada pula yang hanya menggantungkan pada konsumsi buah, sayuran, biji-bijian, dan beras. Bukan hanya perbedaan antarindividu, melainkan juga ada perbedaan antardaerah.Tingkat harga di tiap daerah berbeda-beda. Suatu daerah yang biaya hidupnya lebih tinggi akan mempunyai garis kemiskinan yang lebih tinggi.
Kalau tidak ada penyesuaian garis kemiskinan, inflasi yang cepat akan menyebabkan jumlah orang miskin menurun cepat.Namun,penurunan semacam ini amat menyesatkan karena semata disebabkan kesalahan dalam penentuan garis kemiskinan. Sebab itu, garis kemiskinan harus selalu direvisi mengikuti tingkat inflasi yang telah terjadi. Walau persoalannya kompleks, kita tetap harus mempunyai statistik untuk mengukur kemiskinan. Banyak negara, termasuk Indonesia, telah menentukan garis kemiskinan dengan memperhatikan pola konsumsi masing-masing.
Indonesia (dalam hal ini BPS) menghitung pengeluaran minimal untuk mengonsumsi 2.100 kalori per orang per hari. BPS juga menghitung pengeluaran minimal untuk perumahan, pakaian, kesehatan, pendidikan, dan banyak lagi.
Tiap tahun angka ini selalu direvisi, disesuaikan dengan kenaikan harga. Pendekatan ini telah dilakukan BPS sejak 1970-an. Dengan pendekatan ini, BPS menghasilkan angka 35 juta orang miskin untuk 2010. Namun, lembaga internasional seperti Bank Dunia harus mendapatkan kriteria yang dapat digunakan untuk memperbandingkan tingkat kemiskinan di semua negara di dunia.
Kalau tiap negara menggunakan kriteria masingmasing, Bank Dunia tidak dapat melakukan perbandingan antarnegara. Pada 1990, Bank Dunia pernah membuat kriteria bahwa semua individu dengan pengeluaran di bawah USD1 dikatakan miskin. Angka USD1 disebut garis kemiskinan internasional. Angka ini diperoleh dengan mempelajari garis kemiskinan di banyak negara dan Bank Dunia berpendapat bahwa USD1 telah dapat mewakili garis kemiskinan yang digunakan di banyak negara. Dengan kenaikan harga, Bank Dunia juga menaikkan garis kemiskinan internasional tersebut. Sekarang mereka menggunakan ukuran USD2 untuk garis kemiskinan internasional. Angka ini lebih tinggi dari garis kemiskinan di Indonesia, yang sekira USD1,5 per orang per hari. Dengan kriteria tersebut, Bank Dunia mencatat terdapat 100 juta orang miskin di Indonesia.
Adanya garis kemiskinan internasional seperti yang ditentukan Bank Dunia memang memudahkan perbandingan kondisi kemiskinan antar negara. Namun, kriteria tersebut kurang memperhatikan pola konsumsi ditiap negara. Jadi, dengan kriteria sempit yang memfokuskan pada konsumsi, garis kemiskinan mana yang benar? Masih sulit menjawab. Baik statistik BPS maupun statistik Bank Dunia mempunyai banyak kelemahan. Yang penting, kalau kita hendak melihat kecenderungan, kita harus melihat dengan satu definisi. Kita tidak dapat menggunakan definisi BPS untuk satu periode dan definisi Bank Dunia pada periode lainnya, atau pun definisi lain di saat lain lagi. Kalau kita memakai definisi Bank Dunia, kita harus konsisten menggunakan definisi Bank Dunia. Kalau kita menggunakan definisi BPS, kita harus konsisten untuk menggunakan definisi BPS.
Yang menggembirakan, statistik mana pun yang kita gunakan, persentase penduduk miskin di Indonesia telah mengalami difensiasi. Selanjutnya, sebagai upaya untuk memahami kondisi kemiskinan secara lebih holistik, berbagai statistik lain harus kita tampilkan bersama statistik kemiskinan yang berfokus pada konsumsi individu. Statistik status kesehatan, status gizi, tingkat pendidikan, air bersih, udara bersih, atau rasa aman juga perlu ditampilkan bersama-sama dengan statistik kemiskinan.
Pemerintah Indonesia perlu memberi perhatian pada masalah kemiskinan, setidaknya sama besar dengan perhatian pemerintah pada pertumbuhan ekonomi dan variabel ekonomi makro lainnya. Statistik kemiskinan dan berbagai statistik yang disebut di atas perlu dihasilkan dan dilaporkan setiap tiga bulan sekali, bersamaan dengan laporan statistik ekonomi makro.
Tingkat kemiskinan yang menurun dan jumlah penduduk kelas 'menengah' mampu mendongkrak perekonomian Indonesia. "Bisakah Indonesia naik kelas menjadi negara maju? Jawabnya tergantung pada kebiasaan berpikir kita apakah opertunis atau optimis. Bagi yang biasa berpikir negatif dan pesimistis, jawabnya akan tidak bisa dan tidak mungkin bisa,. "Tapi bagi orang yang memiliki kebiasaan berpikir positif dan optimistis, jawabnya bisa lain sama sekali. Indonesia pasti akan naik kelas menjadi negara maju! Pasti! Bahkan tidak lama lagi! Tahap menjadi negara maju itu bisa dicapai hanya dalam waktu 15 tahun! setidaknya kita memiliki beberapa alasan yang meyakini Indonesia bisa menjadi negara maju. "Lalu untuk menjadi negara maju bagaimana hitung-hitungannya? Apa dasarnya? Adakah modal untuk menjadi negara maju? Bukankah untuk menjadi negara maju harus memiliki modal? Bukankah tidak mungkin sebuah negara berkembang bisa tiba-tiba saja menjadi negara maju?,"
"Sebenarnya, untuk bisa naik kelas menjadi negara maju, Indonesia memiliki modal yang banyak. Modal untuk menjadi negara maju itu kini sudah tersedia dalam jumlah yang cukup." Salah satunya, adalah sekarang ini, di Indonesia, jumlah orang yang sudah tidak miskin lagi mencapai 136 juta orang. Mereka bisa disebut sebagai kelas menengah.  "Tetapi dari 136 juta orang itu sebagian besar memang sudah masuk kelas menengah, tapi sebagian lagi masih tergolong menengah bawah. Karena itu saya menyebutkan kelompok 136 juta orang itu sebagai kelompok orang yang sudah tidak miskin lagi,"  Kelompok ini, adalah kelompok yang tidak lagi memikirkan apakah besok bisa makan. Kelompok ini adalah kelompok orang yang tidak lagi berpikir apakah hari raya nanti bisa membeli baju baru atau tidak. Kelompok ini adalah kelompok yang pasti bisa menyekolahkan anak mereka. Kelompok ini adalah kelompok yang tidak lagi kalut untuk setiap harinya memikirkan masalah-masalah perut dan pakaian. "Kelompok 136 juta orang ini sudah lebih banyak menggunakan pikirannya untuk bagaimana lebih maju lagi, bagaimana lebih sejahtera lagi, dan bagaimana lebih meningkatkan taraf hidupnya lagi. Kelompok ini lebih banyak menggunakan otaknya untuk terus berpikir hari depan yang lebih panjang. Bukan lagi menggunakan pikirannya untuk persoalan besok pagi, "Ketika orang sudah lebih banyak menggunakan pikiran dan energinya untuk memikirkan masa depan, maka orang tersebut akan menghasilkan kemajuan. Ketika 136 juta orang sudah lebih banyak menggunakan pikirannya untuk kemajuan dirinya masing-masing, maka aka ada 136 juta orang yang kian maju. Ketika 136 juta orang kian maju secara bersama-sama, maka negara tempat 136 juta orang itu akan ikut maju,"
Maka siapa yang akan membuat Indonesia naik kelas menjadi negara maju? salah satu yang berperan paling penting adalah mereka yang sekarang sudah masuk kelompok 136 juta orang itu. Angka 136 juta orang, adalah angka yang sangat besar. Angka 136 juta orang adalah angka yang luar biasa hebatnya sebagai modal sebuah kemajuan. "Begitu 136 juta orang tersebut terus menggunakan pikiran dan energinya untuk maju, maka negara ini akan cepat maju. Angka 136 juta adalah angka yang nilainya 7 kali jumlah penduduk Malaysia. Angka 136 juta adalah angka yang nilainya sama dengan 50 kali penduduk Singapura,"Semakin sejahteranya kelompok 136 juta orang ini akan mengajak lebih banyak lagi orang yang ada dibawah mereka untuk ikut maju. Kelompok 136 juta orang ini akan 'menarik' lebih banyak lagi golongan yang lebih bawah untuk masuk kelompok itu. "Karena kelompok 136 juta orang ini terus berpikir untuk lebih maju dan lebih maju, maka kelompok ini sekaligus memiliki prinsip yang kuat: tidak mau lagi mundur. Tidak mau lagi miskin. Tidak mau lagi kembali menjadi orang yang menderita," saya tidak menampikan mungkin ada satu-dua orang yang terpelanting kembali menjadi orang yang miskin, tapi akan lebih banyak orang miskin yang terkatrol ke dalam golongan 136 juta ini. Bahkan dalam 10 tahun ke depan golongan 136 juta ini bisa jadi sudah menjadi 160 juta orang. "Sebuah modal yang lebih besar lagi untuk dalam lima tahun berikutnya membuat Indonesia benar-benar naik kelas menjadi negara maju, jadi jangan lagi adanya sikap prakmatis, opertunis, dan pesimistis itu buakanlah sikap yang menyebabkan mobilitas tinggi.
Mengenai potensi luar biasa konsumen kelas menengah Indonesia (yang Dahlan iskan sebut:Consumer 3000) pertama kali saya cetuskan pada akhir tahun 2010. untuk mengungkap fenomena revolusi konsumen kelas menengah diIndonesia. Karena Selama kurun waktu 1999-2009 konsumen kelas menengah indonesia telah melonjak hampir dua kali lipat. Kini jumlahnya telah mencapai 130 juta lebih atau sekitar 60% dari jumlah penduduk Indonesia. Seiring dengan kemajuan ekonomi Indonesia, mereka bertambah 8-9 juta setiap tahunnya Mereka adalah pasar yang luar biasa bagi siapapun yang melihatnya, pertanyaanya bagaimana anda mengapainya dan mendapatkan konsumsi mereka? Jawabanya adalah kratifitas WIRAUSAHA yang kita nanti-nantikan.
Konsumen dengan pengeluaran US$2-20 perhari ini merupakan segmen pasar yang paling besar dan  paling menguntungkan diIndonesia karena mereka membeli dan mengkonsumsi produk dan layanan advance seperti gadget, TV flat, lemari es, AC, mobil, beragam layanan perbankan, beragam produk investasi, asuransi, hingga liburan ke luar negeri. Mereka adalah para profesional,entrepreneur, supervisor pabrik, ibu rumah tangga, pegawai negeri, guru/dosen, mahasiswa, dokter, arsitek, atau bankir dengan kemampuan daya beli yang tinggi sehingga sangat-sangat layak menyandang konsumen potensial. saya yakini bahwa revolusi kelas menengah di Indonesia akan menciptakan tsunami perubahan konsumen karena kita diperkenalkan olehnya pada tahun 2004 di aceh sebagai pristiwa yang dashyat, sekarang tsunaminya lain, tsunami itu adalah rahmat untuk kita semua,, dan kita harus melihatnya sebagai peluang. Revolusi itu menciptakan jenis konsumen baru, peta kompetisi baru, dan lanskap bisnis baru, model bisnis baru. Ia menciptakan dunia yang sama sekali baru bagi para pemasar, pembisnis dan enterpreneur. “We enter a whole new world”. Dunia baru yang penuh tantangan; dunia baru yang penuh peluang; dunia baru yang penuh kecemerlangan, dunia yang penuh masa depan, Negara dengan iklim bisnis yang fantastis, regional dengan atmosfer usaha yang amazing.
Para pemasar dan calon entrepreneur enduslah wangi-wangian ini sebagai kasturi dari surge Dan pada akhirnya kelompok kelas menegah inilah yang menetukan anda sebagai pemenang atau pecundang, Indonesia memiliki potensi besar dalam ekonomi global. Hal ini terlihat dari semakin besarnya kelompok menengah di Indonesia yang dilihat dari segi jumlah maupun dari segi daya beli. "Kelompok menengah adalah kelompok yang memiliki pendidikan relatif tinggi di atas rata-rata populasi dan ada pekerjaan tetap berdasarkan profesionalisme dan high skill basis atau medium skill," Mengutip data Bank Dunia, sebanyak 55% penduduk Indonesia masuk dalam kategori kelompok menengah. Kelompok ini mengeluarkan belanja antara US$ 2 hingga US$ 20 dollar per hari. Survei McKinsey mengatakan, ada 45 juta orang Indonesia berada di kelompok menengah. keunggulan yang perlu diperhatikan dari jumlah ini adalah Indonesia masih memiliki demografic dividend yang produktif lebih tinggi hingga 2040 mendatang. Ini berbeda dengan dengan negara yang disebut engine society yang penduduk usia 65 tahun keatas telah mencapai 15% bahkan 20% seperti China dan AS. "Nah kita Indonesia itu masih ada 30 tahun lagi,"
Jika kedepannya Indonesia dapat mempertahankan pertumbuhan ekonominya diangka 5% hingga 7%  per tahun maka diperkirakan jumlah kelas menengah bisa mencapai 95 juta hingga 125 juta orang.
Pertumbuhan kelas menengah ini pun juga dirasakan oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Melihat pertumbuhan nasabah wealth management di perusahaannya semakin besar. "Karena middle class tambah bergerak dan itukan membawa kekayaan yang besar sekali," Saat ini jumlah nasabah premium Mandiri mencapai 50.000 orang yang ditangani oleh 170 orang relations manager.  Mulai tahun depan, Bank Mandiri akan menaikkan batas minimum tabungan wealth management sebesar Rp 1 miliar dari sebelumnya sebesar Rp 500 juta. Saat ini, di Mandiri terdapat tiga segmen wealth management, pertama yaitu simpanan Rp 500 juta hingga Rp 3 miliar, kedua dengan tabungan antara Rp 3 miliar sampai Rp 20 miliar dan terakhir adalah tabungan di atas Rp 20 miliar.
Indonesia masih defisit pengusaha sehingga perlu ditumbuhan pengusaha-pengusaha baru. Jumlah pengusaha Indonesia saat ini hanya 1%. Kalau negara maju lebih dari 5%. Karena itu, paling tidak kebutuhan pengusaha di kita bisa mencapai 4%," Target jumlah pengusaha tersebut, sambung Hatta harus tercapai sebagai upaya untuk mencapai impian Indonesia yang akan masuk sebagai 10 negera terbesar di dunia. Untuk mengejar ketertinggalan itu, maka perlu adanya program-program yang merangsang pertumbuhan pengusaha.
Berharap pengembangan bibit-bibit wirausahawan di kalangan anak muda dapat berkembang secara cepat sehingga defisit wirausahawan yang dialami Indonesia bisa dikurangi sehingga bisa menyaingi negara-negara lain di Asia Tenggara yang telah lebih dulu mengembangkan wirausahawan muda. Pada kesempatan yang sama, sebanyak 25 pemenang kompetisi wirausahawan MAPAN seleksi Palembang mendapatkan bantuan dana sebesar Rp 5 juta rupiah setiap pemenang. modal tersebut merupakan stimulus bagi para anak-anak muda yang telah berusaha untuk bisa menjadi wirausahawan muda. "Ini hanya stimulus yang kami berikan, selain memberikan bantuan modal kami juga akan membantu mereka pemenang MAPAN mendapatkan kemudahan mengembangkan usaha yang telah mereka rintis misalnya dengan menyambungkan mereka ke dunia perbangkan dan pelatihan serta akses pameran, salah satu wujud di pembinaan para pemenang seleksi wirauashawan MAPAN tersebut antara lain dengan di Ikutkannya mereka ke pameran Pasar Anak Negeri yang di gelar di Jakarta dan Palembang beberapa waktu lalu.
"Pembinaan ini akan terus berkesinambungan oleh karenanya DPW PAN Sumsel diwajibkan agar membina dan memfasilitasi para pemenang MAPAN untuk bisa mengembangkan usahanya” 25 pemenang wirausahawan MAPAN yang mendapatkan modal ini bisa berkembang dan bisa membuka banyak peluang kerja sehingga angka pengangguran di Sumatra Selatan bisa berkurang.



BIODATA PENULIS
Amin Sinarjo dilahirkan 19 tahun lalu tepatnaya pada tanggal 29 juni 1993 dari keluarga yang sederhana yang berdomisili salah satu daerah di INDONESIA tepatnya diujung propinsi KALINTAN BARAT, kabupaten KAPUAS HULU, kecamatan PENGKATAN, desa RIAMPANJANG, dusun NA. JAJANG, beliau menrupakan anak kedua dari bapak Jawadi dan ibu Seloma Anita dari tiga bersaudara, penulis merupakan sepupu laki-laki pertama dari keluarga ibunya dan sepupu ke empat dari keluarga ayahnya, penulis tidak memiliki latar belakang politis, dan prestasi akademis yang gilang gemilan.
Penulis memiliki jenjang akademis yang biasa-biasa, beliau bersekolah dasar di madrasah ibtidaiyah SYUHADA Na. Jajang, melajutkan pendidikan SLTP di madrasah tsanawiyah AL-YAQIN Riampanjang, dan melanjutkan pendidikan SLTA di SMAN 1 Pengkadan sebelum beliau melanjutkan pendidikan di UNIVERSITAS TANJUNGPURA Pontianak, dan dengan alasan ketertarikanya dalam dunia ekonomi dan bisnis serta kepedulianya dengan dunia pendidikan beliau memilih studi PENDIDIKAN EKONOMI sampai sekarang masih berstatus sebagai mahasiswa aktif.
Beliau adalah orang yang lowprofile, terbukti, beliau tidak memiliki latar belakang organisasi dan memilih sebagai kalangan independent yang berada dibelakang layar dan tidak memiliki teterikatan, namun beliau sering diundang dan menghadiri seminar dari berbagai elemen dan organisasi dikarenakaan sikap yang mudah bergaul sebagai kunci sukses mendapatkan jaringan yang luas, suara jelas dan statement yang tegas adalah ciri-ciri beliau, yang membuat beliau disegani kawan dan lawanya dimanapun beliau diaberada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar