LANGKAH MENUJU 2%
ENTERPRENEUR di TAHUN 2014
David
Mc Clelland menyatakan bahwa suatu negara bisa menjadi makmur bila entrepreneur
(pengusaha) minimal 2% dari jumlah penduduknya jika tidak mau di cap sebagai negara
gagal. Namun kabar bagus menghampiri kita dari berbagai rilis media, Pada tahun
2012, angka pengusaha di Indonesia mencapai 1,56 persen. Kenaikan yang cukup
signifikan dibanding tahun 2011 (0,24 persen) dan 2010 (0,18 persen). Hal ini
sejalan dengan menurunnya angka pengangguran terbuka di Indonesia yang menurun
hingga 6% per Februari 2012 (7,61 juta orang) dari Februari 2011 (8,12 juta
orang).
Program
Pemerintah untuk meningkatkan jumlah pengusaha diIndonesia mendapat tanggapan
positif dari masyarakat. Tak jarang, masyarakat dengan usia muda pun berani
menjadi seorang pengusaha. Namun, mental pengusaha saja tidak cukup untuk
memulai suatu usaha. Dukungan dari penyedia modal menjadi salah satu sektor
terpenting dalam berwirausaha. Terutama, bagi pemula bisnis dengan modal minim.
Namun
pada kenyataannya, meminjam modal ke perbankan tidak semudah membalikkan
telapak tangan, khususnya bagi pembisnis pemula. Alasannya adalah para perintis
bisnis ini belum mendapat akses perbankan (unbankable) karena belum teruji
profil bisnisnya.
Menanggapi
fenomena ini, bamyak perbankan mulai melirik peluang ekspansi pada jalur ini,
mereka mulai menawarkan produk dan jasa baru perbankan dalam memudahkan akses
wirausaha dalam permodalan, selain itu pemerintah melalui UMKM juga cepat
bertindak mengatasi masalah yang terbilang klasik dalam perkembangan
kewirausahaan dewasa ini melalui KUR dan lain-lain.
Rasulullah
bersabda, “Tidak akan
bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ditanya tentang
empat perkara: (1) tentang umurnya untuk apa dia gunakan, (2) tentang ilmunya,
sejauh mana dia amalkan ilmunya tersebut, (3) tentang hartanya, dari mana harta
tersebut didapatkan dan untuk apa harta tersebut dibelanjakan, dan (4) tentang
tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” (Riwayat At-Tirmidzi).
Hadits
diatas tentunya memacu angkatan-angkatan baru Indonesia yang mayoritas berpenduduk
muslim terbesar didunia untuk mengamalakan serta menjalankan prinsif dan
khazanah pemikiran islam dalam pelaku dunia.
Dalam
hadits yang lain juga di jelaskan bahwasanya ketika rasulullah ditanya oleh
salah seoramg sahabatnya, mengenai usaha apa yang paling baik? Sasulullah menjawab: usaha yang paling baik
adalah usaha yang diusahakan oleh tanganya sendiri dan setiap jual beli yang
bersih. Hadits ini menjelaskan bahwasanya setiap kegiatan usaha harus
dilakukan dengan tangan dan cara yang bersih, jujur, bertanggung jawab serta
saling menguntungkan. Dalam era modern kita juga mengenal apa yang kita sebut
dengan etika bisnis, dalam bisnis kita harus memiliki frinsip dasar ini, karena
sekali saja konsumen kecewa dengan pruduk dan pelayanan kita mereka dengan
mudah berpindah dan mengkonsumsi produk lain, maka dari itu rasanya tidak
berlebihan apabila saya mengangkat filosofis Management pemasaran “jangan beri kesempatan pada costomer anda
untuk berpindah atau mengkonsumsi produc lain” rasanya ini juga perlu
mendapat banyak perhatian bagi pembisnis, karena disinilah pertimbangan
mencakup asfek bisnis yang sangat kompleks keterjangkauan harga, tempat, kwalitas
produk dan nilai guna serta promosi dan publikasi dengan memperhatikan konsep-konsep
sosial dan budaya serta kebiasaan. dalam hal ini kita
juga harus memperhatikan hubungan yang saling menguntungkan, dam kepuasan konsumen
adalah home work bagi setiap pelaku bisnis dan enterpreneur.
Dunia
kampus memiliki potensi besar dalam melahirkan wirausaha handal yang sangat
dibutuhkan bagi perekonomian nasional. Karenanya di tengah persaingan global
dewasa ini, perguruan tinggi bisa mencetak entrepreneur lebih banyak. Dari
Kampus Kita Membangun Bangsa. “Perguruan Tinggi berpeluang besar menjadikan
Indonesia lebih baik. Karena para sarjana lulusannya, diharapkan mampu
menciptakan lapangan kerja signifikan bagi pembangunan perekonomian nasional”.
Saat
ini kondisi entrepreneurship Indonesia masih berada pada langkah-langkah awal
pertumbuhan. Karena itu, masih diperlukan semangat yang kuat untuk menciptakan
para entrepreneur baru. Salah satu caranya adalah dengan mendorong munculnya
para entrepreneur muda dari lingkungan kampus. Anda bayangkan saja apabila setiap lulusan SMA sederajat dan Strata1
dibekali dengan program kewirausahaan, akan ada banyak keuntungan pertama,
berapa banyak wirausaha muda terlahir. kedua,
berapa orang terserap dalam setiap kegiatan usahanya. Dan ketiga, ketika mereka tidak terserap oleh lapangan kerja yang ada,
mereka tidak perlu resah karena mereka sudah dididik untuk menciptakan lapangan
kerja sendiri. Dalam rangka memasuki pintu kebijakan Asean Economic Community
tahun 2015 mendatang, Indonesia harus melakukan pembenahan secara tepat dan
cermat. Khususnya dalam meningkatkan jumlah entrepreneur muda yang akan
berkontribusi dan berkompetisi dalam pembangunan ekonomi nasional era perdangangan
bebas.
Karenanya
melalui sistem pendidikan yang berbasis minat dan bakat mahasiswa, diharapkan
dapat memunculkan fokus dan potensi entrepreneurship di kalangan mahasiswa.
Melalui konsep satu entrepreneur untuk setiap entrepreneur, diharapkan setiap
entrepreneur memiliki tingkat daya saing yang tinggi.
Sehingga
kita bersaing di kawasan regional dan kawasan lain yang lebih luas. Mengutip
kalimat Peter Ducker; "The best way
to predict future is to create it, cara baik dalam memprediksi masadepan adalah
menciptakanya”. setiap kita harus terus membangun optimisme untuk
Indonesia yang lebih baik, dengan semangat entrepreneurship.
2.
PENGGIATAN EKONOMI ISLAM
Meningkatkan ekonomi umat Islam menjadi bagian tanggung
jawab intelektual Muslim. Karena itu, pimpinan perguruan tinggi (PT) di ASEAN
harus membentuk jaringan intelektualnya untuk tugas pemberdayaan umat tersebut.
(dikutip dari media) Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Dr. Edy
Suandi Hamid “menyatakan tugas jejaring
intelektual Islam di antaranya mengembangkan tradisi entrepreneur di kalangan
umat. “Umat Islam masih kurang yang menjadi entrepreneur. Kondisi ini
berseberangan dengan tradisi Rasulullah Muhammad Saw, yang mengisi masa hidupnya
sebagai wiraswastawan dibidang perdagangan.
Saya merasa prihatian
berdasarkan data, kondisi umat Islam yang jumlahnya mencapai hampir seperempat
arial total penduduk dunia hanya menyumbang 6,8% ekonomi dunia. Bahkan, lebih miris
lagi kondisi ekonomi umat Islam justru terbanyak sebagai penduduk miskin, 39%,
hanya 10% masuk pendidikan tinggi, dan 1,5% terlibat pendidikan.
Pendidikan tinggi jangan
menjadi menara gendang, yang hanya memiliki konsep, tetapi hanya melihat kondisi
nyata ditingkat akar rumput. Sekali lagi, Lembaga pendidikan tinggi diharapkan
memberikan perhatian lebih banyak untuk menciptakan generasi wirausahawan
muslim melalui pendidikan ataupun pelatihan.
3.
PENANAMAN IDIOLOGI WIRAUSAHA
TINGKATKAN KEMAKMURAN
Memang terkadang nilai
seseorang itu dilihat dari apa yang disampaikan dan apa yang dilakukannya,
bukan bermaksud mendeskriminasikan seseorang atau pun men-judge sesuatu dengan
apapun, tapi memang benar bahwa mindset pikiran kita dan intonasi ucapan kita
sangatlah dipengaruhi oleh lingkungan apalagi pekerjaan. Seorang pejuang, pasti
jelas apapun yang ucapkannya sangatlah menggebu-gebu, seorang sinden, mungkin
gaya bahasanyapun serasa mendayu-dayu, seorang satpam intonasinya pun juga
tegas, jelas dan agak sedikit keras. Tapi di sini saya akan mengulas sebab muasal mengapa bisa
sampai seperti itu.
Rasanya
tidak berlebihan apabila saya menyatakan “profesi
lah yang membuat anda hidup tapi sebaliknya pada profesi lah anda mengehembuskan
nafas terakhir” memanng terlihat sederhana apabila saya menggambarkan
seorang enterpreneur sebagai profesi padahal lebih dari itu enterpreneur adalah pola fikir berkembang,
memperjuangkan, pahlawan keharmonisan dan kesejahteraan, namun sekali lagi
ini hanya cara saya mendiskrifsikan seorang interpreneursif, saya
perlihatkan contoh misalnya seorang teroris mati tertembak, sopir angkot mati
kecelakaan di anggkot. Jadi tidak salah
apabila profesi anda menentukan takdir hidup dan mati anda, namun
masalahnya anda dan profesi serta takdir anda selalu memiliki pilihan. Hidup dalam
profesi yang baik ”insaallah” anda akan mati dalam keadaan baik, hidup dalam
profesi yang tidak baik maka takdir anda kemungkinan besar mati dalam keadaan
tidak baik, tapi sebaik-baiknya mati adalah anda mati sebagai pejuang yang di
muliakan (jihat), memperjuangkan anda sendiri, orang lain, bangsa, negara dan
dunia. (bukan dengan menciptakan permusuhan dan kehancuran). #saya tidak akan
mengulas jauh ke masalah jihat karena pembahasan jihat tidak cukup sampai satu
atau dua bab saja, dalam islam jihat itu sangat luas ruang lingkupnya.
1. Berbicara tentang kegagalan
Seorang
Alva Edison tidak akan berhasil menemukan lampu, jika dia berhenti di percobaan
ke 999 kali. Bayangkan saja jika ternyata dia menyerah. Maka dia tidak akan
terkenal hingga sekarang. Kegagalan kita merupakan salah satu alat bagi kita
untuk lebih melatih pendewasaan diri kita, melatih kita dengan kondisi yang
memang berada diluar batas pikiran kita karena memang keilmuan tidak
terbataskan apapun baik fisik, waktu, dan tempat.
Tidak
salah jika ketika saya bertemu seorang pengusaha muda, saya langsung mendoakan “semoga usaha Anda segera bangkrut”.
Agak aneh begitu mendengarnya? Tetapi nilai filosofisnya tinggi dari kata
sesederhana dan senyeleneh itu, Karena dengan adanya masalah secara tidak
langsung Allah ingin menaikkan derajat kita dan ingin melatih kita menjadi
pengusaha yang siap mental. Maklum, mental sangat bermain jika ingin menjadi
seorang pengusaha. Oleh karena itu, kedatangan masalah dalam hidup kita
seharusnya bisa disyukuri, karena masalah menjadi satu jalan untuk kita
berusaha, untuk kita belajar gratis. Ketika tidak ada masalah, cari lah
masalah, atau ekstrimnya lagi, tinggal tantang aja tuh masalah, masalah ayo
datang, ayo datang, hingga nantinya masalah menjadi bosan untuk sekedar mampir dalam
hidup kita.
2. Berbicara tentang kedudukan
pedagang/wirausahawan.
Inilah
yang menjadi satu ketertarikan tersendiri jika berbicara mengenai pengusaha.
Bagi seorang muslim, maka jelas dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasullah pernah menyatakan bahwa 9 dari 10
pintu rezeki adalah melalui pintu berdagang dan dalam kesempatan lain ketika
rasulluallah diTanya oleh salah seorang sahabat mengenai; usaha apa yang palin
baik? Rasulluallah (al-hadits) halaman 3. Ini artinya aktivitas
dagang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Melalui jalan inilah, pintu-pintu
rezeki akan dapat dibuka.
ANALISIS PROSPEKTIF
WIRAUSAHA DALAM MENCIPTAKAN POROS PEREKONOMIAN NASIONAL
Jumlah
pengusaha diIndonesia saat ini hanya 1,56% dari total penduduk atau sekitar 3.697.000 orang. Untuk
mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, jumlah ideal pengusaha Indonesia semestinya
4.740.000 dari asumsi total penduduk 237 juta jiwa. Artinya, dari kondisi ideal
tersebut maka Indonesia masih kekurangan sekitar 4.171.200 orang wirausahawan. Peluang yang sangat besar apalagi bila kita melihat jumlah penduduk kelas menengah
terus meningkat, berdasarkan rilis media Online, detikfinence.com penduduk
kelas menengah Indonesia 56,5% dari jumlah penduduk Indonesia berarti ada
sekitar 150.550.000 penduduk Indonesia dengan tingkat konsumsi yang cukup
tinggi sebagai pasar yang potensial, kabar baik bagi para pencinta tantangan,
jadi tidak salah jika pemerintah confidance apabila pertumbuhan ekonomi kita
masih bercokol di atas angka 6% dan wirausaha adalah tiang penguatan kedua
setelah iklim investasi yang meneunjukan tern positif, baik itu yang di
tunjukan oleh kinerja lantai bursa pada awal januari 2013 yang berhasil
menembus rekor baru yaitu di level 4800 bertapa masih tingginya eksistensi
emiten-emiten di BEI, serta BKPM, Dll. namun perlu di ketahui juga ini artinya
juga memudahkan dana asing atau badan usaha masuk ke Indonesia yang
memungkinkan menyebabkan lebih kompetitifnya pasar di Indonesia, namun juga
sangat perlu diperhatikan di sekala makro lain seperti defisit perdagangan,
tingkat inflasi, nilai tukar rupiah, jangan sampai kehilangan kendali jika
tidak mau perekonomian kita lesu yang akan berimbas langsung pada kesemerautan
mikro, kesejahteraan, infrastruktur, dll.
Sebagai
gambaran, kondisi berbeda terjadi di negara-negara maju seperti tetangga kita,
Singapura. Persentase jumlah pengusaha dinegeri Singa itu mencapai 7,20 persen dari total
penduduknya. Sementara India yang merupakan negara yang tengah mengalami
pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, memiliki pengusaha sekitar 11 persen dari total penduduknya yang
berjumlah 1,2 miliar jiwa.
Dari
rasio 3.967.000 orang pengusaha yang ada di Indonesia, sebagian gambaran
pengusaha muda 0,25 persen dari total jumlah penduduk dan 73% dari total
wirausaha diIndonesia. Sebagai perbandingan Malaysia yang jumlah pengusaha mudanya
mencapai angka 16% dari jumlah penduduk, artinya bahwa Indonesia tertinggal
sangat jauh.
Salah
satu variabel yang menjadi faktor penyebab masih rendahnya minat wirausaha di
Indonesia adalah karena sebagian besar pemuda masih terjebak pada orientasi instant
dan tingginya penyerapan pegawai, baik
pegawai negeri maupun pegawai swasta dewasa ini menjadi satu dilema tersendiri,
bahkan seharusnya kita [kata salah satu wirausaha muda] bisa lebih
menginspirasi masyarakat bagaimana wirausaha mampu menjadi satu penggerak
perekonomian tersendiri di Indonesia.
Satu
hal yang dapat disimpulkan, ternyata entrepreneur menjadi satu tonggak pelecut
perekonomian Indonesia. Dilihat dari statistik diatas, Indonesia masih sangat
membutuhkan satu poros penampung pengangguran yang memang selama ini terus
berkembang.
Statemen Paling Menggugah!
Dalam
salah satu bahasannya, seorang pengusaha muda pernah memberikan suatu fakta
yang cukup menarik, mungkin lebih jelasnya agak menyinggung realita yang ada
sekarang. Ini saya kaitkan dengan keadaan yang ada sekarang.
Saya
cukup bingung dengan beberapa kalangan mahasiswa yang selalu berteriak-teriak tentang korupsi,
tentang BBM, tentang kebijakan dan moralitas. Demonstrasi yang berjamaah,
merusak fasilitas, bahkan ada yang sampai merusak dengan cara membakar
fasilitas tersebut. Faktanya, Idealisme seperti itu, (idealisme mahasiswa) hanya ada pada saat mereka mahasiswa saja.
Banyak
sekali mahasiswa yang sudah bekerja pada reallife, idealisme mereka menjadi luntur akibat system berantai yang memang menuntut
mereka untuk menjadi follower, bukan semata-mata menegakkan idealisme yang
dulunya ketika mahasiswa membara dan menggebu-gebu. Ada juga mahasiswa yang
dulunya sering berorasi menolak sana sini, lalu setelah dia lulus, dia bekerja
diperusahaan luar (sebut saja freeport),
dengan begitu bangganya dia memasang profil dijejaring sosialnya, lalu
pertanyaannya sekarang, apa beda mereka dengan koruptor? Perusahaan asing (yang
ada sekarang), jelas-jelas sangat merugikan Indonesia, mengangkut sumber daya
yang ada di Indonesia untuk kemakmuran negaranya. Kita dengan dampak yang
memang sudah terasa jelas, hanya menikmati tidak lebi dari 2% dari ekplorasi
lahan seluas 6000 hektar. Sekarang saya ingin bertanya pada abang-abang yang
sudah bekerja itu, “Apa itu yang disebut idealisme?”
Badan
Pusat Statistik (BPS) mengatakan, jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak
35 juta orang. Namun, Bank Dunia menyebutkan ada 100 juta jiwa, jauh lebih
besar dari yang disebutkan BPS. Berita di berbagai media massa pada 13
November 2010 menyebutkan ada dugaan manipulasi data oleh BPS meski lembaga itu
juga membantah kritikan tersebut. Menurut BPS, perbedaan antara Bank Dunia dan
BPS pada kriteria untuk menentukan garis kemiskinan.
Semakin tinggi garis kemiskinan yang kita pakai, semakin besar jumlah orang miskin yang kita peroleh. Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan yang lebih tinggi daripada yang digunakan BPS. Mana yang benar? Siapa yang disebut miskin? Apa ciri-ciri orang miskin? Para pengemis di jalanan diJakarta? Mereka yang kurus? Mereka yang berada dalam lingkungan hidup yang buruk? Mereka yang tidak pernah makan daging? Mereka yang sakit-sakitan? Mereka yang tidak berpendidikan? Terlepas dari hal itu Konsep kemiskinan memang sangat luas, “ucap saya mengalah” mungkin saja bank dunia menngunakan standar dengan tingkat kesejahteraan kingdom of england, dan kingdom of amirican state .
Semakin tinggi garis kemiskinan yang kita pakai, semakin besar jumlah orang miskin yang kita peroleh. Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan yang lebih tinggi daripada yang digunakan BPS. Mana yang benar? Siapa yang disebut miskin? Apa ciri-ciri orang miskin? Para pengemis di jalanan diJakarta? Mereka yang kurus? Mereka yang berada dalam lingkungan hidup yang buruk? Mereka yang tidak pernah makan daging? Mereka yang sakit-sakitan? Mereka yang tidak berpendidikan? Terlepas dari hal itu Konsep kemiskinan memang sangat luas, “ucap saya mengalah” mungkin saja bank dunia menngunakan standar dengan tingkat kesejahteraan kingdom of england, dan kingdom of amirican state .
Banyak
pertanyaan yang dapat diajukan untuk menentukan siapa yang disebut miskin.
Seorang kawan bahkan pernah memberi tahu bahwa kemiskinan harus diukur secara
holistik, yang mencakup kemiskinan spiritual. Saya mengerti
maksudnya, namun saya terbentur bagaimana mengukur kemiskinan yang holistik
tersebut. Sampai saat ini kita memang belum mempunyai suatu statistik yang
dapat mengukur kemiskinan secara holistic, saya juga orang akademis dan akan
menggunakan prosedur ilmiah saya tadak mau beranda-andai dalam mengunakan
standar sebagai dasar pijkan, sebenarnya bisa saja saya menngunakan pijakan
pendekatan trata pendidikan pormal sebagai ukuranya, namun itu tidak menjamin
realitas personal karena hal yang sebelumnya saya bahas diatas.
Persoalan
menentukan siapa orang miskin juga terkait penentuan apa yang menjadi tujuan
pembangunan. Kalau tujuan pembangunan sekadar percepatan pertumbuhan ekonomi
dan pendapatan per kapita, kemiskinan cukup dihitung dengan pengeluaran untuk
konsumsi individu.
Hal itulah yang telah dilakukan BPS dan Bank Dunia. Mereka hanya memfokuskan pada pengeluaran konsumsi individu. Statistik mereka tidak mencakup status kesehatan, ketersediaan air bersih, ketersediaan udara bersih, rasa aman, dan banyak lagi. Banyak negara dan lembaga internasional memakai cara pengukuran seperti ini karena memang relatif mudah.
Meski begitu, persoalan berikutnya adalah bagaimana menentukan garis kemiskinan. Berapa pengeluaran maksimal untuk konsumsi seorang individu agar dapat disebut sebagai orang miskin? Persoalan menjadi tambah sulit karena kebutuhan minimal tiap orang dapat berbeda, bergantung pola konsumsinya. Contoh mencolok adalah ada orang yang harus makan daging untuk kebutuhan protein, dan ada pula yang hanya menggantungkan pada konsumsi buah, sayuran, biji-bijian, dan beras. Bukan hanya perbedaan antarindividu, melainkan juga ada perbedaan antardaerah.Tingkat harga di tiap daerah berbeda-beda. Suatu daerah yang biaya hidupnya lebih tinggi akan mempunyai garis kemiskinan yang lebih tinggi.
Hal itulah yang telah dilakukan BPS dan Bank Dunia. Mereka hanya memfokuskan pada pengeluaran konsumsi individu. Statistik mereka tidak mencakup status kesehatan, ketersediaan air bersih, ketersediaan udara bersih, rasa aman, dan banyak lagi. Banyak negara dan lembaga internasional memakai cara pengukuran seperti ini karena memang relatif mudah.
Meski begitu, persoalan berikutnya adalah bagaimana menentukan garis kemiskinan. Berapa pengeluaran maksimal untuk konsumsi seorang individu agar dapat disebut sebagai orang miskin? Persoalan menjadi tambah sulit karena kebutuhan minimal tiap orang dapat berbeda, bergantung pola konsumsinya. Contoh mencolok adalah ada orang yang harus makan daging untuk kebutuhan protein, dan ada pula yang hanya menggantungkan pada konsumsi buah, sayuran, biji-bijian, dan beras. Bukan hanya perbedaan antarindividu, melainkan juga ada perbedaan antardaerah.Tingkat harga di tiap daerah berbeda-beda. Suatu daerah yang biaya hidupnya lebih tinggi akan mempunyai garis kemiskinan yang lebih tinggi.
Kalau
tidak ada penyesuaian garis kemiskinan, inflasi yang cepat akan menyebabkan
jumlah orang miskin menurun cepat.Namun,penurunan semacam ini amat menyesatkan
karena semata disebabkan kesalahan dalam penentuan garis kemiskinan. Sebab itu,
garis kemiskinan harus selalu direvisi mengikuti tingkat inflasi yang telah
terjadi. Walau persoalannya kompleks, kita tetap harus mempunyai statistik
untuk mengukur kemiskinan. Banyak negara, termasuk Indonesia, telah menentukan
garis kemiskinan dengan memperhatikan pola konsumsi masing-masing.
Indonesia
(dalam hal ini BPS) menghitung pengeluaran minimal untuk mengonsumsi 2.100
kalori per orang per hari. BPS juga menghitung pengeluaran minimal untuk
perumahan, pakaian, kesehatan, pendidikan, dan banyak lagi.
Tiap
tahun angka ini selalu direvisi, disesuaikan dengan kenaikan harga. Pendekatan
ini telah dilakukan BPS sejak 1970-an. Dengan pendekatan ini, BPS menghasilkan
angka 35 juta orang miskin untuk 2010. Namun, lembaga internasional seperti
Bank Dunia harus mendapatkan kriteria yang dapat digunakan untuk
memperbandingkan tingkat kemiskinan di semua negara di dunia.
Kalau
tiap negara menggunakan kriteria masingmasing, Bank Dunia tidak dapat melakukan
perbandingan antarnegara. Pada 1990, Bank Dunia pernah membuat kriteria bahwa
semua individu dengan pengeluaran di bawah USD1 dikatakan miskin. Angka USD1
disebut garis kemiskinan internasional. Angka ini
diperoleh dengan mempelajari garis kemiskinan di banyak negara dan Bank Dunia
berpendapat bahwa USD1 telah dapat mewakili garis kemiskinan yang digunakan di
banyak negara. Dengan kenaikan harga, Bank Dunia juga menaikkan garis kemiskinan
internasional tersebut. Sekarang mereka
menggunakan ukuran USD2 untuk garis kemiskinan internasional. Angka ini lebih
tinggi dari garis kemiskinan di Indonesia, yang sekira USD1,5 per orang per
hari. Dengan kriteria tersebut, Bank Dunia mencatat terdapat 100 juta orang
miskin di Indonesia.
Adanya
garis kemiskinan internasional seperti yang ditentukan Bank Dunia memang
memudahkan perbandingan kondisi kemiskinan antar negara. Namun, kriteria
tersebut kurang memperhatikan pola konsumsi ditiap negara. Jadi, dengan
kriteria sempit yang memfokuskan pada konsumsi, garis kemiskinan mana yang
benar? Masih sulit menjawab. Baik statistik BPS maupun statistik Bank
Dunia mempunyai banyak kelemahan. Yang penting, kalau kita hendak melihat
kecenderungan, kita harus melihat dengan satu definisi. Kita tidak dapat
menggunakan definisi BPS untuk satu periode dan definisi Bank Dunia pada
periode lainnya, atau pun definisi lain di saat lain lagi. Kalau kita memakai definisi Bank Dunia, kita harus
konsisten menggunakan definisi Bank Dunia. Kalau kita menggunakan definisi BPS,
kita harus konsisten untuk menggunakan definisi BPS.
Yang
menggembirakan, statistik mana pun yang kita gunakan, persentase penduduk
miskin di Indonesia telah mengalami difensiasi. Selanjutnya, sebagai upaya
untuk memahami kondisi kemiskinan secara lebih holistik, berbagai statistik
lain harus kita tampilkan bersama statistik kemiskinan yang berfokus pada
konsumsi individu. Statistik status kesehatan, status gizi, tingkat
pendidikan, air bersih, udara bersih, atau rasa aman juga perlu ditampilkan
bersama-sama dengan statistik kemiskinan.
Pemerintah
Indonesia perlu memberi perhatian pada masalah kemiskinan, setidaknya sama besar
dengan perhatian pemerintah pada pertumbuhan ekonomi dan variabel ekonomi makro
lainnya. Statistik kemiskinan dan berbagai statistik yang disebut di atas perlu
dihasilkan dan dilaporkan setiap tiga bulan sekali, bersamaan dengan laporan
statistik ekonomi makro.
Tingkat kemiskinan yang
menurun dan jumlah penduduk kelas 'menengah' mampu mendongkrak perekonomian
Indonesia. "Bisakah Indonesia naik kelas menjadi negara
maju? Jawabnya tergantung pada kebiasaan berpikir kita apakah opertunis atau
optimis. Bagi yang biasa berpikir negatif dan pesimistis, jawabnya akan tidak
bisa dan tidak mungkin bisa,. "Tapi
bagi orang yang memiliki kebiasaan berpikir positif dan optimistis, jawabnya
bisa lain sama sekali. Indonesia pasti akan naik kelas menjadi negara maju!
Pasti! Bahkan tidak lama lagi! Tahap menjadi negara maju itu bisa dicapai hanya
dalam waktu 15 tahun! setidaknya kita memiliki beberapa alasan
yang meyakini Indonesia bisa menjadi negara maju. "Lalu
untuk menjadi negara maju bagaimana hitung-hitungannya? Apa dasarnya? Adakah
modal untuk menjadi negara maju? Bukankah untuk menjadi negara maju harus
memiliki modal? Bukankah tidak mungkin sebuah negara berkembang bisa tiba-tiba
saja menjadi negara maju?,"
"Sebenarnya,
untuk bisa naik kelas menjadi negara maju, Indonesia memiliki modal yang
banyak. Modal untuk menjadi negara maju itu kini sudah tersedia dalam jumlah
yang cukup." Salah satunya, adalah sekarang ini, di Indonesia,
jumlah orang yang sudah tidak miskin lagi mencapai 136 juta orang. Mereka
bisa disebut sebagai kelas menengah. "Tetapi
dari 136 juta orang itu sebagian besar memang sudah masuk kelas menengah, tapi
sebagian lagi masih tergolong menengah bawah. Karena itu saya menyebutkan
kelompok 136 juta orang itu sebagai kelompok orang yang sudah tidak miskin
lagi," Kelompok ini, adalah kelompok yang tidak lagi
memikirkan apakah besok bisa makan. Kelompok ini adalah kelompok orang yang tidak
lagi berpikir apakah hari raya nanti bisa membeli baju baru atau tidak.
Kelompok ini adalah kelompok yang pasti bisa menyekolahkan anak mereka.
Kelompok ini adalah kelompok yang tidak lagi kalut untuk setiap harinya
memikirkan masalah-masalah perut dan pakaian. "Kelompok 136 juta orang ini sudah lebih banyak menggunakan
pikirannya untuk bagaimana lebih maju lagi, bagaimana lebih sejahtera lagi, dan
bagaimana lebih meningkatkan taraf hidupnya lagi. Kelompok ini lebih banyak
menggunakan otaknya untuk terus berpikir hari depan yang lebih panjang. Bukan
lagi menggunakan pikirannya untuk persoalan besok pagi, "Ketika orang
sudah lebih banyak menggunakan pikiran dan energinya untuk memikirkan masa
depan, maka orang tersebut akan menghasilkan kemajuan. Ketika 136 juta orang
sudah lebih banyak menggunakan pikirannya untuk kemajuan dirinya masing-masing,
maka aka ada 136 juta orang yang kian maju. Ketika 136 juta orang kian maju
secara bersama-sama, maka negara tempat 136 juta orang itu akan ikut maju,"
Maka
siapa yang akan membuat Indonesia naik kelas menjadi negara maju? salah satu
yang berperan paling penting adalah mereka yang sekarang sudah masuk kelompok
136 juta orang itu. Angka 136 juta orang, adalah angka yang sangat besar. Angka
136 juta orang adalah angka yang luar biasa hebatnya sebagai modal sebuah
kemajuan. "Begitu 136 juta
orang tersebut terus menggunakan pikiran dan energinya untuk maju, maka negara
ini akan cepat maju. Angka 136 juta adalah angka yang nilainya 7 kali jumlah
penduduk Malaysia. Angka 136 juta adalah angka yang nilainya sama dengan 50
kali penduduk Singapura,"Semakin sejahteranya kelompok 136 juta orang ini
akan mengajak lebih banyak lagi orang yang ada dibawah mereka untuk ikut maju.
Kelompok 136 juta orang ini akan 'menarik' lebih banyak lagi golongan yang
lebih bawah untuk masuk kelompok itu. "Karena kelompok 136
juta orang ini terus berpikir untuk lebih maju dan lebih maju, maka kelompok
ini sekaligus memiliki prinsip yang kuat: tidak mau lagi mundur. Tidak mau lagi
miskin. Tidak mau lagi kembali menjadi orang yang menderita," saya tidak
menampikan mungkin ada satu-dua orang yang terpelanting kembali menjadi orang
yang miskin, tapi akan lebih banyak orang miskin yang terkatrol ke dalam
golongan 136 juta ini. Bahkan dalam 10 tahun ke depan golongan 136 juta ini
bisa jadi sudah menjadi 160 juta orang. "Sebuah
modal yang lebih besar lagi untuk dalam lima tahun berikutnya membuat Indonesia
benar-benar naik kelas menjadi negara maju, jadi jangan lagi adanya sikap
prakmatis, opertunis, dan pesimistis itu buakanlah sikap yang menyebabkan
mobilitas tinggi.
Mengenai potensi luar biasa konsumen kelas menengah
Indonesia (yang Dahlan iskan sebut:Consumer 3000) pertama kali saya
cetuskan pada akhir tahun 2010. untuk mengungkap fenomena revolusi konsumen
kelas menengah diIndonesia. Karena Selama kurun waktu 1999-2009 konsumen kelas
menengah indonesia telah melonjak hampir dua kali lipat. Kini jumlahnya telah
mencapai 130 juta lebih atau sekitar 60% dari jumlah penduduk Indonesia.
Seiring dengan kemajuan ekonomi Indonesia, mereka bertambah 8-9 juta setiap
tahunnya Mereka adalah pasar yang luar biasa bagi siapapun yang melihatnya,
pertanyaanya bagaimana anda mengapainya dan mendapatkan konsumsi mereka?
Jawabanya adalah kratifitas WIRAUSAHA yang kita nanti-nantikan.
Konsumen dengan pengeluaran US$2-20 perhari ini merupakan
segmen pasar yang paling besar dan
paling menguntungkan diIndonesia
karena mereka membeli dan mengkonsumsi produk dan layanan advance seperti gadget, TV flat, lemari es, AC, mobil, beragam
layanan perbankan, beragam produk investasi, asuransi, hingga liburan ke luar
negeri. Mereka adalah para profesional,entrepreneur,
supervisor pabrik, ibu rumah tangga, pegawai negeri, guru/dosen, mahasiswa,
dokter, arsitek, atau bankir dengan kemampuan daya beli yang tinggi sehingga
sangat-sangat layak menyandang konsumen potensial. saya yakini
bahwa revolusi kelas menengah di Indonesia akan menciptakan tsunami perubahan
konsumen karena kita diperkenalkan olehnya pada tahun 2004 di aceh sebagai
pristiwa yang dashyat, sekarang tsunaminya lain, tsunami itu adalah rahmat
untuk kita semua,, dan kita harus melihatnya sebagai peluang. Revolusi itu
menciptakan jenis konsumen baru, peta kompetisi baru, dan lanskap bisnis baru,
model bisnis baru. Ia menciptakan dunia yang sama sekali baru bagi para pemasar,
pembisnis dan enterpreneur. “We enter a whole new world”. Dunia baru yang penuh tantangan;
dunia baru yang penuh peluang; dunia baru yang penuh kecemerlangan, dunia yang
penuh masa depan, Negara dengan iklim bisnis yang fantastis, regional dengan
atmosfer usaha yang amazing.
Para pemasar dan calon entrepreneur enduslah
wangi-wangian ini sebagai kasturi dari surge Dan pada akhirnya kelompok kelas
menegah inilah yang menetukan anda sebagai pemenang atau pecundang, Indonesia memiliki potensi
besar dalam ekonomi global. Hal ini terlihat dari semakin besarnya kelompok
menengah di Indonesia yang dilihat dari segi jumlah maupun dari segi daya beli. "Kelompok
menengah adalah kelompok yang memiliki pendidikan relatif tinggi di atas
rata-rata populasi dan ada pekerjaan tetap berdasarkan profesionalisme dan high
skill basis atau medium skill," Mengutip data Bank Dunia, sebanyak 55%
penduduk Indonesia masuk dalam kategori kelompok menengah. Kelompok ini
mengeluarkan belanja antara US$ 2 hingga US$ 20 dollar per hari. Survei
McKinsey mengatakan, ada 45 juta orang Indonesia berada di kelompok menengah. keunggulan yang perlu diperhatikan
dari jumlah ini adalah Indonesia masih memiliki demografic dividend yang produktif
lebih tinggi hingga 2040 mendatang. Ini berbeda dengan dengan negara yang
disebut engine society yang penduduk usia 65 tahun keatas telah mencapai 15%
bahkan 20% seperti China dan AS. "Nah kita Indonesia itu masih ada 30
tahun lagi,"
Jika kedepannya Indonesia dapat mempertahankan pertumbuhan ekonominya diangka 5% hingga 7% per tahun maka diperkirakan jumlah kelas menengah bisa mencapai 95 juta hingga 125 juta orang.
Jika kedepannya Indonesia dapat mempertahankan pertumbuhan ekonominya diangka 5% hingga 7% per tahun maka diperkirakan jumlah kelas menengah bisa mencapai 95 juta hingga 125 juta orang.
Pertumbuhan
kelas menengah ini pun juga dirasakan oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Melihat
pertumbuhan nasabah wealth management
di perusahaannya semakin besar. "Karena middle class tambah bergerak dan
itukan membawa kekayaan yang besar sekali," Saat ini
jumlah nasabah premium Mandiri mencapai 50.000 orang yang ditangani oleh 170
orang relations manager. Mulai tahun depan, Bank Mandiri akan menaikkan
batas minimum tabungan wealth management
sebesar Rp 1 miliar dari sebelumnya sebesar Rp 500 juta. Saat ini, di Mandiri terdapat tiga segmen wealth
management, pertama yaitu simpanan Rp 500 juta hingga Rp 3 miliar, kedua dengan
tabungan antara Rp 3 miliar sampai Rp 20 miliar dan terakhir adalah tabungan di
atas Rp 20 miliar.
Indonesia
masih defisit pengusaha sehingga perlu ditumbuhan pengusaha-pengusaha baru.
Jumlah pengusaha Indonesia saat ini hanya 1%. Kalau negara maju lebih dari 5%.
Karena itu, paling tidak kebutuhan pengusaha di kita bisa mencapai 4%,"
Target jumlah pengusaha tersebut, sambung Hatta harus tercapai sebagai upaya
untuk mencapai impian Indonesia yang akan masuk sebagai 10 negera terbesar di
dunia. Untuk mengejar ketertinggalan itu, maka perlu adanya program-program
yang merangsang pertumbuhan pengusaha.
Berharap pengembangan bibit-bibit wirausahawan di
kalangan anak muda dapat berkembang secara cepat sehingga defisit wirausahawan yang
dialami Indonesia bisa dikurangi sehingga bisa menyaingi negara-negara lain di
Asia Tenggara yang telah lebih dulu mengembangkan wirausahawan muda. Pada kesempatan yang sama, sebanyak 25 pemenang
kompetisi wirausahawan MAPAN seleksi Palembang mendapatkan bantuan dana sebesar
Rp 5 juta rupiah setiap pemenang. modal tersebut merupakan stimulus bagi para
anak-anak muda yang telah berusaha untuk bisa menjadi wirausahawan muda.
"Ini hanya stimulus yang kami berikan,
selain memberikan bantuan modal kami juga akan membantu mereka pemenang MAPAN
mendapatkan kemudahan mengembangkan usaha yang telah mereka rintis misalnya
dengan menyambungkan mereka ke dunia perbangkan dan pelatihan serta akses
pameran, salah satu wujud di pembinaan para pemenang seleksi wirauashawan MAPAN
tersebut antara lain dengan di Ikutkannya mereka ke pameran Pasar Anak Negeri
yang di gelar di Jakarta dan Palembang beberapa waktu lalu.
"Pembinaan
ini akan terus berkesinambungan oleh karenanya DPW PAN Sumsel diwajibkan agar
membina dan memfasilitasi para pemenang MAPAN untuk bisa mengembangkan
usahanya” 25 pemenang wirausahawan MAPAN yang mendapatkan modal
ini bisa berkembang dan bisa membuka banyak peluang kerja sehingga angka
pengangguran di Sumatra Selatan bisa berkurang.
BIODATA PENULIS
Amin Sinarjo
dilahirkan 19 tahun lalu tepatnaya pada tanggal 29 juni 1993 dari keluarga yang
sederhana yang berdomisili salah satu daerah di INDONESIA tepatnya diujung
propinsi KALINTAN BARAT, kabupaten KAPUAS HULU, kecamatan PENGKATAN, desa
RIAMPANJANG, dusun NA. JAJANG, beliau menrupakan anak kedua dari bapak Jawadi dan ibu Seloma Anita dari tiga bersaudara, penulis merupakan sepupu laki-laki
pertama dari keluarga ibunya dan sepupu ke empat dari keluarga ayahnya, penulis
tidak memiliki latar belakang politis, dan prestasi akademis yang gilang
gemilan.
Penulis
memiliki jenjang akademis yang biasa-biasa, beliau bersekolah dasar di madrasah
ibtidaiyah SYUHADA Na. Jajang, melajutkan pendidikan SLTP di madrasah tsanawiyah
AL-YAQIN Riampanjang, dan melanjutkan pendidikan SLTA di SMAN 1 Pengkadan
sebelum beliau melanjutkan pendidikan di UNIVERSITAS TANJUNGPURA Pontianak, dan
dengan alasan ketertarikanya dalam dunia ekonomi dan bisnis serta kepedulianya
dengan dunia pendidikan beliau memilih studi PENDIDIKAN EKONOMI sampai sekarang
masih berstatus sebagai mahasiswa aktif.
Beliau
adalah orang yang lowprofile, terbukti, beliau tidak memiliki latar belakang
organisasi dan memilih sebagai kalangan independent yang berada dibelakang
layar dan tidak memiliki teterikatan, namun beliau sering diundang dan
menghadiri seminar dari berbagai elemen dan organisasi dikarenakaan sikap yang mudah
bergaul sebagai kunci sukses mendapatkan jaringan yang luas, suara jelas dan
statement yang tegas adalah ciri-ciri beliau, yang membuat beliau disegani
kawan dan lawanya dimanapun beliau diaberada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar